Iklan Capres-Cawapres Lakukan Pembodohan Masyarakat
Kamis, 17 Jun 2004 14:37 WIB
Jakarta - Pernah lihat iklan capres-cawapres di televisi? Ada capres umbar janji, bernyanyi, dicium tangannya oleh anak SD, dan lain-lain. Sedang dibodohi kah kita?Berdasarkan pemantauan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) dan Koalisi Media untuk Pemilu Bebas dan Adil, hampir semua iklan capres-cawapres melakukan pembodohan kepada masyarakat."Iklan yang ditayangkan televisi tidak memberikan pembelajaran dan pendidikan politik yang baik," kata Direktur ISAI Stanley Joseph Adiprasetyo di Kantor Panwaslu, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (17/6/2004).ISAI dan Koalisi Media mengkritisi beberapa iklan kampanye. Bahkan pemberitaan di televisi mengenai kampanye capres-cawapres juga dinilai terjebak pada acara seremonial belaka."Kebanyakan masih menggunakan narasumber utama, yakni si capres dan cawapresnya. Tapi tidak mencoba mengkritisi visi dan misi para kandidat Pilpres," kelus Stanley.Iklan PembodohanSoal iklan capres-cawapres, Stanley menunjuk iklan Wiranto yang dianggap telah melakukan eksploitasi terhadap anak-anak. Dalam tayangannya, sejumlah anak SD berlarian ke Wiranto dan seorang anak SD mencium tangan Wiranto."Ini bertentangan dengan UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Disebutkan, anak-anak memperoleh perlindungan dari penyalahgunaan di bidang politik," tukas Stanley.Koordinator Monitoring ISAI Irawan Saptono menunjuk iklan nyanyi bersama yang dilakukan SBY-Kalla. "Iklan itu cenderung manipulatif. Saya curiga itu bukan suara SBY yang asli. Sepengetahuan saya, suara SBY memang bagus, tapi tidak sebagus dalam iklan. Tidak mungkin suara SBY setinggi itu," ujarnya.Irawan juga menyoroti iklan SBY yang menampilkan sekelompok anak muda yang sedang berkumpul, dan mengatakan akan memilih SBY karena keren. Lalu muncul gambar SBY yang mengenakan jaket kulit bak anak muda.Iklan SBY, dinilai Irawan, mengecilkan dan mengolok-olok para calon lain dari segi fisik. Kata keren adalah kata anak muda untuk menggambarkan seseorang yang tampan atau cantik dari segi fisik. Sedangkan Mega, Hamzah, dan Amien jelas jauh dari penggambaran."Olok-olok dari segi penampilan fisik sangat tidak etis. Sama tidak etisnya ketika KPU mengolok-olok Gus Dur soal penampilan fisiknya," tukas Irawan.Analis media ISAI Ahmad Faisal melihat ada sejumlah pasangan yang melanggar peraturan kampanye di media. Dia menunjuk tayangan "Satrio Piningit" di TVRI yang diindikasikan sebagai blocking time dari pasangan SBY-Kalla."Tayangan itu memang acara hiburan dan nyanyian. Tapi saat bernyanyi, ada running text bertuliskan: Lagu ini terdapat dalam album Damai Bersama SBY. Dapatkan kaset dan CD-nya," tutur Ahmad.Hal sama dilakukan Agum Gumelar bertajuk "Untukmu Bangsaku" di TPI. Pasangan capres Hamzah Haz itu dinilai Ahmad melakukan blocking time. Sebab ada label iklan Hamzah-Agum di pojok kanan televisi.Sedangkan Mega dinilai melakukan blocking time pada acara "Indonesia on the Move" di Metro TV. Tayangan itu jelas-jelas menampilkan sosok Marisa Haque yang merupakan tim sukses Mega. Tayangan itu menonjolkan keberhasilan Mega selama 3 tahun memimpin. Ada pernyataan Marisa, selama 3 tahun pembangunan berjalan secara benar."Itu kan belum ada kebenaran faktanya. Ada juga iklan Mega yang menyesatkan. Ada seorang ibu rumah tangga meninggalkan pekerjaan di dapur untuk beli sayur di luar rumah. Kemudian harus balik ke dapur agar makanan tidak gosong. Ini kan tidak ada hubungannya dengan visi dan misi Mega," kata Ahmad.Iklan Amien Rais, lanjut dia, dinilai hanya pepesan kosong belaka. Karena tidak mencerminkan dan membangun sisi kognitif masyarakat. Justru memberikan sinyalemen kalau sosok Amien lebih besar ketimbang PAN."Juga ada pernyataan sejumlah tokoh seperti iklan Zainuddin MZ yang mendukung Amien. Zainuddin mengatakan Amien adalah pemimpin yang tidak bermasalah. Iklan ini tidak didukung oleh fakta. Sebab memang tidak ada fakta yang menyatakan demikian," tandas Ahmad.
(sss/)











































