Komisi III DPR Desak Densus 88 Perbaiki SOP

Komisi III DPR Desak Densus 88 Perbaiki SOP

- detikNews
Senin, 16 Mei 2011 07:43 WIB
Jakarta - Operasi Tim Densus 88 di Sukoharjo berhasil melumpuhkan dua orang terduga teroris. Sayangnya seorang warga sipil juga tewas dalam baku tembak pada Sabtu (14/5) dini hari itu. Atas insiden ini, polisi didesak untuk memperbaiki Standard Operating Procedure (SOP) dalam menggelar operasinya.

"Ke depan perbaikan SOP tentu harus ditata lagi dengan baik. Tak perlu gegabah terburu-buru, harus pastikan lokasi clear dari warga sipil," ujar anggota Komisi III DPR, Didi Irawadi Syamsudin saat dihubungi detikcom, Minggu (15/5/2011).

Didi menyesalkan jatuhnya korban tak berdosa tersebut. Ia menilai polisi tidak profesional dalam melakukan operasinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini sangat disayangkan. Saya pikir saya sangat menyesalkan profesionalisme polisi sampai mengorbankan orang sipil. Tindakan hukum itu sama sekali tidak boleh mengorbankan warga sipil berapapun jumlahnya. Ini sangat tidak profesional," katanya.

Ia pun mempersilahkan Komnas HAM untuk menyelidiki insiden ini. Didi juga berharap, polisi memperhatikan keluarga yang telah ditinggalkan almarhum.

"Bagaimanapun juga keluarga yang ditingalkan harus ada jaminan. Almarhum ini kan yang mencari nafkah, keluarganya tolong dipikirkan baik-baik," pintanya.

Nur Imam, seorang pedagang angkringan tewas saat polisi menggerebek kawanan teroris di Kampung Dukuh, Desa Sanggrahan, Grogol, Sukoharjo sekitar pukul 01.00 WIB. Dalam penggerebekan tersebut terjadi baku tembak antara polisi dan teroris. Timah panas pun mendarat di tubuh Imam yang kebetulan berada di lokasi kejadian. Polisi memastikan, peluru yang berada di tubuh Imam berasal dari tembakan teroris. Polisipun akan memberikan santunan kepada keluarga Imam.

Dalam penggerebekan ini Polisi berhasil menewaskan dua buronan teroris. Mereka adalah Sigit Qurdowi dan Hendro. Dua orang ini masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dalam kasus bom gereja dan Mapolsek Pasar Kliwon, Solo pada bulan Desember 2010. Mereka juga terlibat dalam jaringan terorisme di Cirebon.

(adi/van)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads