Jalan di Kaltim Rusak Parah, Amblas Hingga 2,5 Meter

Jalan di Kaltim Rusak Parah, Amblas Hingga 2,5 Meter

- detikNews
Minggu, 15 Mei 2011 09:33 WIB
Jalan di Kaltim Rusak Parah, Amblas Hingga 2,5 Meter
Kutai Timur - Ruas jalan trans Kalimantan Timur (Kaltim) dari Sengatta Kabupaten Kutai Timur menuju Kabupaten Berau di sepanjang 300 kilometer, rusak sangat parah. Ratusan jalan berlubang dan amblas hingga 2,5 meter membuat pengemudi mobil dan truk ekstra hati-hati melintasi jalan milik negara itu.

Pantauan detikcom, Sabtu (14/5/2011) sore WITA, saat menelusuri jalan poros Sengatta menuju Kecamatan Muara Wahau yang masih berada di wilayah Kabupaten Kutai Timur, lubang menganga sedalam 1-2 meter dan berlumpur kerap menjebak kendaraan yang melintasi jalan tersebut.

Salah satu kerusakan paling parah berada di kawasan Ambur Batu, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur. Di lokasi itu, lubang menganga sedalam 2,5 meter dan berlumpur membuat sebuah mobil Ford Ranger, terperosok hingga 1 jam. Kendaraan itu pun akhirnya terlepas dari kubangan lumpur setelah ditarik oleh kendaraan lainnya yang melintas di jalan yang sama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ya begini ini lubang sampai lebih dari 2 meter. Mau sampai kapan kita lewati jalan seperti ini?" keluh salah seorang warga Kecamatan Muara Wahau, Ahmad Hamid kepada detikcom usai menarik kendaraan terperosok tersebut, di Ambur Batu, Bengalon, Kutai Timur, Sabtu (14/5/2011).

Menurutnya, akibat jalan rusak, jarak tempuh Sengatta menuju Muara Wahau sepanjang 200 kilometer, menjadi lebih lama dari yang seharusnya 5-6 jam, kini ditempuh hingga 24 jam.

"Ya itu tadi karena jalan seperti ini. Kalau tidak rusak sangat parah seperti ini, Sengatta ke Wahau bisa tembus normal 5 sampai 6 jam," ujar Ahmad.

"Jalan dari Wahau ke Berau, sama saja rusaknya. Tidak ada perbaikan hampir 1 tahun ini," imbuh Ahmad.

Pemprov Kaltim, saat ini tengah memulai pengerjaan ruas tol Balikpapan-Samarinda sepanjang 99 kilometer dan menelan dana Rp 6 trilun. Menanggapi itu, Ahmad menilai pembangunan tol itu sangat mubazir.

"Ya, saya tahu sedang dibangun jalan tol. Tapi menurut saya, itu sia-sia saja. Jalan yang ada sekarang kan masih bisa dilalui dan relatif bagus. Jadi buat apa bangun tol?" ucap Ahmad heran.

"Coba dana sebesar itu untuk perbaikan jalan ini akan lebih bermanfaat. Tidak usah aspal, cukup pengerasan dan tidak sampai berlubang besar seperti ini," ujarnya.

Memasuki Sabtu (14/5/2011) petang, iring-iringan 8 truk berbadan besar dari arah Muara Wahau menuju Sengatta, bermaksud melintasi lubang 2,5 meter itu. Dengan ekstra hati-hati, mereka berupaya keras untuk menerobosnya.

Syaiful, salah seorang supir truk di lokasi mengatakan, iring-iringan truk yang dikendarainya bersama teman-temannya, berangkat dari Berau kembali menuju Samarinda dengan jarak tempuh 500 kilometer.

"Kami bawa sembako dari Samarinda ke Berau. Dari Samarinda, ini hari keenam dan kami baru sampai di sini (Ambur Batu). Biasanya 4 sampai 5 hari kami sudah sampai di Samarinda lagi," kata Syaiful.

"Lubang ini belum seberapa dalamnya. Tadi truk teman saya terperosok di daerah Gunung Kidung, dekat Wahau. Di situ, lubang dan lumpur lebih dalam lagi," ujar Syaiful.

Syaiful mengaku heran, pemerintah tidak sigap melakukan perbaikan ruas jalan tersebut. Kondisi itu, sambung Syaiful, sangat merugikan sopir truk pengangkut sembako.

"Kalau sembako terlambat datang ke Berau dan stok terbatas, harga pastinya melonjak," imbuh Syaiful.

"Sementara kita juga harus mempertimbangkan kondisi kendaraan. Kalau tidak hati-hati, truk kita bisa patah roda melewati jalan ini," tambah Syaiful.

Tidak berbeda dengan Ahmad, menanggapi pembangunan ruas tol Balikpapan-Samarinda senilai Rp 6 triliun, sangat disayangkan Syaiful.

"Nggak usah bangun tol. Perbaiki aja jalan ini. Kalau diminta pooling, saya yakin pengguna jalan akan setuju untuk perbaikan jalan ini. Apalagi kita yang mengangkut sembako, penggerak ekonomi di masyarakat bawah," tegas Syaiful.

Dampak dari kerusakan sarana infrastruktur jalan, berbagai kebutuhan sembako mengalami lonjakan di Muara Wahau dan daerah sekitarnya.

"Bensin (Premium) di Muara Wahau Rp 23 ribu perliter. Silakan saja cek ke sana kalau tidak percaya," sebut Syaiful.

Memasuki Sabtu (14/5/2011) malam, iring-iringan belasan truk yang juga bermuatan sembako serta logistik alat berat, juga mengarah ke Muara Wahau dan Berau. Mereka lagi-lagi harus berhenti, menyusul salah satu mobil, menjadi korban jalan berlubang dan amblas 2,5 meter itu.

"Setiap hari, setiap malam, ada saja yang terperosok. Mudah-mudahan pemerintah pusat dan provinsi, mau membuka mata dan ikut merasakan penderitaan kita pengguna jalan ini," kata Syamsul, pengemudi truk lainnya dari arah Sengatta.

"Ini sedang tidak turun hujan. Kalau hujan, kita terpaksa menginap di tengah jalan ini sambil menunggu lumpur mulai berkurang," timpal Syamsul.

Di sepanjang perjalanan Sengatta-Muara Wahau, tidak sedikit pula mobil dan truk, sedang memperbaiki kendaraannya di tepi jalan. Ketiadaan spare part, membuat mereka harus rela menginap di atas kendaraan yang mereka kendarai.

(mok/mok)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads