Istri Nur Iman, Waliyem beserta dua anaknya dan ibu kandungnya hingga kini belum kembali ke rumahnya.
Ketua RT1 RW 3 Kampung Dukuh, Desa Sanggrahan, Grogol, Sukoharjo,
Budiyana, mengatakan keluarga Nur Iman dibawa polisi atas izin dan sepengetahuannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Budiyana mengira Waliyem dan keluarga dibawa polisi untuk mendapatkan tempat yang lebih tenang agar tidak terganggu karena ramainya orang yang berdatangan ke kampung tersebut setelah tewasnya Nur Iman.
Nur Iman menjadi korban penembakan dalam kontak tembak antara polisi dengan tersangka teroris. Lelaki asal Klaten yang sehari-harinya bekerja sebagai pedagang makanan angkringan tersebut, diyakini tidak terlibat sama sekali dengan kegiatan terorisme.
Nur Iman menikahi Waliyem, perempuan asli desa tersebut, pada sembilan tahun silam. Semula dia bekerja di sebuah perusahaan tekstil di Sukoharjo. Namun sekitar lima tahun lalu, dia terkena rasionalisasi. Kemudian, Nur membuka usaha warung angkringan yang hampir selalu buka di setiap malamnya, hingga akhirnya naas merenggut nyawanya.
"Orangnya sangat baik hati, rajin dan suka menolong para tetangga. Di lingkungan dia dipercaya sebagai pengurus RT untuk memegang tanggungjawab di bidang peralatan dan penerangan," ujar Budiyana.
Para tetangga almarhum juga menyampaikan rasa siumpati atas kemalangan yang menimpa keluarga Nur Iman. Mereka meminta pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap keluarga yang ditinggal Nur Iman, mengingat selama ini hanya Nur Iman yang menjadi sandaran ekonomi keluarga.
(mbr/aan)











































