Duh! 2 Juta Pelanggan TV Kabel Berbayar Ilegal

Duh! 2 Juta Pelanggan TV Kabel Berbayar Ilegal

- detikNews
Jumat, 13 Mei 2011 16:34 WIB
Bali - Pertumbuhan pelanggan TV kabel berbayar di Indonesia terus meningkat. Namun jumlah pelanggan legal ternyata masih kalah dengan pelanggan ilegal. Duh!

"Saya mendengar dari asosiasi bahwa total pelanggan mencapai 1,5-2 juta pelanggan. Memang kalau dikatakan pelanggan ilegal dan legal masih banyak yang ilegal," kata Presiden Direktur MNC Sky Vision (Indovision) Rudy Tanoesudibyo.

Rudy mengatakan itu kepada wartawan dalam jumpa pers acara The Asia Pasific Pay TV Operators Summit 2011 di Ayana Luxury Resort and Spa, Jimbaran, Bali, Sabtu (13/5/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rudy mengatakan, jumlah pelanggan TV kabel berbayar di Indonesia mencapai 1,2 juta pelanggan. Angka itu jauh dibanding pelanggan ilegal yang selama ini tidak terdaftar.

"Memang maraknya sejak 2004-2005. Pembajakan awalnya hanya di Kalimantan dan beberapa area di Sulawesi. Tapi sekarang hampir di seluruh wilayah bahkan di Jakarta sudah ada," terangnya.

Kerugian akibat pembajakan ini, kata Rudy, tak hanya berlaku bagi para operator namun juga pemerintah. Bisa dibayangkan 2 juta pelanggan ilegal tidak membayar pajak setiap bulannya.

"Kalau 60 channel seharga US$ 15 dikali 1 juta pelanggan selama setahun, angkanya bisa triliunan," tambah Rudy.

Meski begitu, angka pertumbuhan pelanggan TV kabel berbayar setiap bulannya terus bertambah. Indovision sendiri mencatat ada 25-30 ribu pelanggan per bulan.

"Kita selalu mendukung agar pendekatan pemerintah melalui penegakan hukum dalam hal ini. Kita juga mendukung bagaimana agar (pembajak) ini menjadi legal. Untuk khususnya yang tadinya ilegal menjadi legal," tutur Rudy.

Sementara itu di tempat yang sama, Menkominfo Tifatul Sembiring mengatakan, pemerintah terus berusaha agar menekan jumlah pembajak TV berlangganan. Penegakan hukum ini dimulai dengan pendekatan secara baik-baik kepada operator ilegal yang selama ini meraup keuntungan dari usahanya.

"Kita sudah mendatangi yang bersangkutan. Kita ancam suruh tutup. Ada yang puluhan ribu (pelanggan). Itu sudah kita datangi. Tapi kemudian ini kan gampang tumbuh lagi," kata Tifatul.

(ape/nik)


Berita Terkait