"Saya tidak pernah terkait. Saya tidak pernah ikut dan keluar (dari NII). Saya tidak terkait dengan sejarah itu," ujar Pimpinan Ma'had Al Zaytun saat ditemui di kompleks Ma'had Al Zaytun, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (11/5/2011).
Terkait kegiatan cuci otak yang marak dibicarakan masyarakat dan disebut-sebut merupakan bagian dari aktivitas NII KW 9, Panji mengaku bukan bagian dari kegiatan itu. "Saya bukan dokter, bukan tukang sihir. Tidak tahu (bagaimana) cuci otak itu," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia itu kerukunan. Jangan tuntut-tuntutan. Kalau tuntut-tuntutan nanti yang menang monyet. Indonesia perlu persatuan," tambah Panji.
Agar tidak gampang dicuci otak, menurutnya, setiap orang harus kembali pada ajaran agama dan Pancasila. "Jangan kafirkan sana-sana, dan angkatlah harga diri manusia atau nguwongke wong," sarannya.
Ketika ditanya apakah ada aktivitas semacam kemiliteran di lingkungan Al Zaytun, Panji menampik. Dia menuturkan, yang ada di Al Zaytun adalah siskamling atau sistem keamanan lingkungan. Pelatih dari anggota siskamling adalah kepolisian.
"Sebelum dilatih polisi, pelatihnya adalah tentara (TNI). Kalau tentara yang melatih, mana sempat pelatihan militer. Disebut-sebut ada Wiranto? Kok ke mana-mana, malah jladrah," ucap Panji.
Dalam penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 2002 salah satu kesimpulannya menyebut, kepemimpinan di Ma'had Al Zaytun terkait dengan kepemimpinan di organisasi NII KW 9, terutama pada figur AS Panji Gumilang dan sebagai pengurus yayasan.
(vta/anw)











































