"Mereka pada umumnya beraksi di lokasi-lokasi rawan macet, pada jam-jam sibuk pulang kantor," kata Kepala Subdit I Umum Polda Metro Jaya AKBP Helmy Santika kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (11/5/2011).
Helmy mengatakan, pelaku memanfaatkan kelemahan si pengendara pada saat situasi jalanan macet. Kendaraan yang tidak dapat bergerak pada saat terjebak macet, membuat pelaku tidak dapat dikejar.
"Kelemahannya macet, dia tidak bisa maju, mundur dan juga saat hujan. Ini melemahkan calon korban," kata Helmy.
Aksi pencongkelan itu juga dilakukan dengan secepat kilat. Tidak sampai hitungan menit, pelaku sudah mampu mematahkan spion mobil sasaran.
"Dalam situasi seperti itu, korban yang panik juga nggak akan sempat mengejar," terangnya.
Sementara itu, Helmy mengatakan, para pelaku pencongkelan spion pada umumnya menyasar mobil jenis Toyota Alphard. Pasalnya, spion Alphard mempunyai nilai jual yang tinggi dibanding spion lainnya.
"Satu pasang spion, aslinya bisa sampai Rp 14 juta. Mereka jual ke penadah cuma 1-1,5 jutaan," sebutnya.
(mei/gun)











































