Kunjungan MPR ke Belanda Bukan Kunker, Bahas Kunjungan SBY yang Batal

Kunjungan MPR ke Belanda Bukan Kunker, Bahas Kunjungan SBY yang Batal

- detikNews
Rabu, 11 Mei 2011 13:54 WIB
Kunjungan MPR ke Belanda Bukan Kunker, Bahas Kunjungan SBY yang Batal
Jakarta - Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan kunjungannya ke Den Haag dan Strasbourg (Perancis, bukan Belgia seperti diberitakan sebelumnya), bukanlah kunjungan kerja, apalagi studi banding. Kunjungan ini adalah kunjungan balasan MPR dalam rangka memenuhi undangan Parlemen Belanda (Eerste Kamer) yang sudah hampir dua tahun belum sempat dipenuhi.

Hal ini diungkapkan Lukman dalam surat elektronik kepada detikcom, Rabu (11/5/2011). Dia mengungkapkan, demikian pula kunjungan ke Parlemen Uni Eropa adalah kunjungan balasan memenuhi undangan mereka yang telah berkunjung ke MPR sebelumnya.

"Dalam pertemuan dengan pimpinan parlemen Belanda, kami diterima oleh Presiden Senat dan 5 pimpinan senat dari partai besar. Kami membahas banyak hal, antara lain, rencana kunjungan Presiden SBY ke Belanda yang batal tempo hari, persoalan WNI di Belanda dan warga Belanda yang memiliki hubungan kuat dengan Indonesia, masa depan demokrasi dan umat Islam di Indonesia, beasiswa bagi pelajar kita, dll. Silakan klik website: www.eerstekamer.nl untuk lebih lengkapnya menangkap hasil pembicaraan kami dengan parlemen Belanda," beber Lukman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menuturkan, selama 2 hari di Den Haag, ada dua pertemuan yang tak diberitakan detikcom, yang juga amat penting, yaitu pertemuan Sosialisasi 4 Pilar Berbangsa untuk kalangan seluruh staf KBRI kita dan pertemuan dialogis dengan pengurus Persatuan Pelajar Indonesia (PPI). Kedua pertemuan tersebut berlangsung di kantor Wisma KBRI di Den Haag pada Selasa 10 Mei 2011.

"Pagi ini kami bertemu dengan Wakil Presiden Parlemen Uni Eropa di Strasbourg (Perancis) dan siang hingga sorenya bertemu dengan Ketua Parlemen Uni Eropa untuk Asean. Kedua pertemuan tersebut amat penting karena Parlemen UE kini amat kuat dan berpengaruh, sementara kita kini memimpin Asean. Kita ingin agar Indonesia ditetapkan sebagai mitra strategis Uni Eropa sebagaimana Jepang, India, dan Cina," beber politisi PPP ini.

Besok, sepulang dari Strasbourg, Lukman masih akan melakukan pertemuan dengan warga masyarakat Maluku di Belanda untuk mencari solusi atas berbagai persoalan terkait dengan keindonesiaan yang mereka hadapi.

"Jadi, sekali lagi, tuduhan bahwa kunjungan MPR ke Belanda dan Perancis lebih banyak agenda bebasnya adalah tendensius, tanpa didukung data dan informasi yang akurat. Semoga informasi singkat ini -- di tengah-tengah sempitnya persiapan saya menghadapi agenda pagi ini -- membawa manfaat," tulis Lukman.


(nrl/vta)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads