Hal ini diungkapkan Lukman dalam surat elektronik kepada detikcom, Rabu (11/5/2011). Dia mengungkapkan, demikian pula kunjungan ke Parlemen Uni Eropa adalah kunjungan balasan memenuhi undangan mereka yang telah berkunjung ke MPR sebelumnya.
"Dalam pertemuan dengan pimpinan parlemen Belanda, kami diterima oleh Presiden Senat dan 5 pimpinan senat dari partai besar. Kami membahas banyak hal, antara lain, rencana kunjungan Presiden SBY ke Belanda yang batal tempo hari, persoalan WNI di Belanda dan warga Belanda yang memiliki hubungan kuat dengan Indonesia, masa depan demokrasi dan umat Islam di Indonesia, beasiswa bagi pelajar kita, dll. Silakan klik website: www.eerstekamer.nl untuk lebih lengkapnya menangkap hasil pembicaraan kami dengan parlemen Belanda," beber Lukman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pagi ini kami bertemu dengan Wakil Presiden Parlemen Uni Eropa di Strasbourg (Perancis) dan siang hingga sorenya bertemu dengan Ketua Parlemen Uni Eropa untuk Asean. Kedua pertemuan tersebut amat penting karena Parlemen UE kini amat kuat dan berpengaruh, sementara kita kini memimpin Asean. Kita ingin agar Indonesia ditetapkan sebagai mitra strategis Uni Eropa sebagaimana Jepang, India, dan Cina," beber politisi PPP ini.
Besok, sepulang dari Strasbourg, Lukman masih akan melakukan pertemuan dengan warga masyarakat Maluku di Belanda untuk mencari solusi atas berbagai persoalan terkait dengan keindonesiaan yang mereka hadapi.
"Jadi, sekali lagi, tuduhan bahwa kunjungan MPR ke Belanda dan Perancis lebih banyak agenda bebasnya adalah tendensius, tanpa didukung data dan informasi yang akurat. Semoga informasi singkat ini -- di tengah-tengah sempitnya persiapan saya menghadapi agenda pagi ini -- membawa manfaat," tulis Lukman.
(nrl/vta)











































