"Ya memang unik ya," kata JK saat ditanya harga pesawat Merpati di atas harga pasaran.
Hal ini disampaikan JK usai menerima kunjungan pimpinan MPR di kediaman JK, Jalan Brawijaya Raya nomor 6, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (11/5/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berapa yang dibeli pemerintah? Karena, Merpati mengatakan dia beli US$ 11,2 juta. Kalau dikali 15 unit kan US$ 160 juta tetapi dibeli US$ 220 juta, ke mana itu yang lainnya. Tanya saja kepada Kementerian Keuangan, Perdagangan atau BUMN. Tanya sama mereka, saya tidak tahu," papar JK yang sempat menolak pengadaan pesawat made in China itu karena Indonesia butuh pesawat yang lebih tangguh.
JK juga menolak berkomentar terkait dugaan mark up pembelian pesawat berbaling-baling pedang -- yang menunjukkan dari generasi terbaru -- tersebut. "Saya tidak mengindikasi hal yang menduga-duga. Tetapi lebih baik diteliti lagi," kata dia.
Dikatakan dia, pembelian pesawat MA60 Merpati sudah tercantum dalam MoU Merpati. Merpati melibatkan pemerintah untuk berutang.
"Karena pemerintah itu saya sebagai wakil presiden, saya mengurus hal-hal begitu. Saya bekerja dengan keinginan saya bahwa barang uji coba itu jangan dibeli dong. Itu saja prinsipnya. Pokoknya jangan dibeli, disewa saja," ujarnya.
Yang dimaksudnya barang uji coba adalah pesawat itu tidak mengantongi sertifikasi FAA AS.
Apakah sudah ada rekomedasi membeli dari kementerian? "Usulan dari Merpati dan lewat departemen. Semua sepakat membeli, waktu itu zaman saya, setelah itu tidak tahu lagi. Jadi minta maaf ya," jawab JK.
Merpati membeli 15 unit pesawat MA60, yang sudah datang 13 unit. Setiap unit pesawat penumpang bermesin turbo baling-baling ganda tersebut dibeli dengan harga US$ 11 juta atau Rp 94,08 miliar.
(aan/nrl)











































