Gus Solah Minta Restu Ulama Subang dan Purwakarta
Rabu, 16 Jun 2004 16:15 WIB
Purwakarta - Calon wakil presiden (cawapres) Salahuddin Wahid (Gus Solah) mengunjungi sejumlah pesantren di Subang dan Purwakarta, Jawa Barat. Dalam kunjungannya, ia minta pimpinan pesantren mendoakan agar berhasil menjadi wapres. Pesantren pertama yang dikunjungi pasangan Wiranto itu yakni Pondok Pesantren Pagelaran III di Cisalak, Subang. Gus Solah tiba di pesantren itu pukul 10.00 WIB, Rabu (16/6/2004). Ratusan santri berjajar di pinggir jalan menyambut kunjungan itu. Sementara pimpinan pondok, tokoh masyarakat menunggu cucu pendiri NU itu di dalam pondok. Di hadapan santri, kiai, dan masyarakat yang menyambutnya, adik Gus Dur itu menjanjikan perbaikan kehidupan pesantren. Menurut Gus Solah, pemerintahan sekarang belum optimal memperhatikan pesantren. "Kalau saya nanti terpilih sebagai wapres saya akan memperjuangkan kepentingan pesantren untuk dapat dibantu oleh pemerintah. Sekarang anggaran pendidikan pesantren itu 10 persen akan diusahakan ditingkatkan secara bertahap sampai mencapai 20 persen," kata Gus Solah. Dari pesantren Pagelaran, pasangan Wiranto itu melanjutkan perjalanannya ke Pondok Pesantren Al Hikamussalafiah, Wanayasa, Purwakarta. Dia diterima pimpinan pondok KH Adang Badrudin. Hadir dalam acara itu kiai se-Purwakarta dan Wakil Bupati Purwakarta serta ratusan santri. Di ponpes itu, Ketua Umum PKB Alwi Shihab bergabung dengan Gus Solah. Sesepuh ulama Purwakarta Habib Mustofa menyatakan mendukung penuh pasangan Wiranto-Gus Solah. "Gus Solah adalah cucu pendiri NU. Saya siap mati untuk memenangkan Wiranto- Wahid," kata Mustofa. Kepada para ulama se-Purwakarta itu, Gus Solah minta didoakan agar berhasil menjadi wapres. Selanjutnya Gus Solah melakukan salat dhuhur di masjid Jami Alkaromah, Salam Mulia, Dusun III, Purwakarta. Usai salat, mantan Wakil Ketua Komnas HAM itu berkunjung ke Pasar Rebo, Purwakarta. Di pasar ini, Gus Solah bersamalan dengan para pedagang dan pengunjung pasar. Dia juga sempat membeli tomat 2 kg dan membayarnya dengan Rp 50 ribu. Dari pasar itu, Gus Solah lantas kembali ke Jakarta.
(iy/)











































