Banjir luapan Sungai Mahakam di 3 kecamatan di Kukar hingga 3 meter terjadi dalam 3 pekan terakhir dan mengganggu pelaksanaan UAS SD. Dengan mengayuh perahu, sebagian murid terlambat 30 menit untuk mengikuti UAS sejak Selasa (11/5) kemarin.
Di SDN 027 Desa Muara Kaman Ilir yang bangunannya terbuat dari konstruksi kayu ulin, terdapat 14 murid peserta UAS. Banjir yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyurut, mengancam ruang belajar yang dijadikan tempat penyelenggaraan UAS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesuai dengan petunjuk teknis yang ada, pelaksanaan dimulainya UAS pukul 08.00 WITA, tidak berbeda dengan sekolah lainnya yang menyelenggarakan ujian serupa. Berbekal perahu sederhana, murid SDN 027 harus mengayuh perahunya untuk datang ke sekolah mereka tepat waktu. Pantauan detikcom, saking tingginya banjir, mereka bisa mengayuh perahu sampai depan pintu kelas.
"Tidak ada perubahan. Anak murid pukul 07.30 WITA sudah kita masukkan ke ruangan. Karena banjir, sebagian terlambat 30 menit. Menggunakan perahu, ada yang tercebur di banjir, balik lagi ke rumah ganti baju," sebut Basruni.
Meski lelah mengayuh perahu, semangat murid SDN 027 mengikuti UAS tidak surut, beralaskan sandal pun tidak masalah. Begitu juga usai ujian pukul 10.00 WITA, sebagian mereka kembali mengayuh perahu menuju rumah masing-masing.
"Mudah-mudahan ada bantuan Pemkab Kutai Kartanegara untuk meninggikan konstruksi lantai sekolah. Meski tahun lalu kami sudah ajukan permohonan bantuan," tutup Basruni.
Banjir merendam 15 desa di Kecamatan Muara Kaman yang berpenduduk 2.340 KK atau 8.091 jiwa. Banjir juga merendam 5 desa di Kecamatan Kenohan yang dihuni 341 KK atau 1.246 jiwa dan 3 desa di Kecamatan Muara Wis yang dihuni 553 KK atau 2.089 jiwa.
(fay/nrl)










































