Hal itu merupakan hasil pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan KPK pekan lalu. Salah satu yang ditekankan adalah pentingnya kerja sama.
"Kita juga setuju bahwa satu prioritas yang harus diperkuat adalah kolaborasi antara institusi pemerintah, dalam upaya kita menimimalisir dan mencegah penyalahgunaan uang negara," tegas SBY saat berbicara dalam 'Pemberantasan Praktik Penyuapan Pejabat Asing dalam Transaksi Bisnis Internasional' di Nusa Dua, Bali, Selasa (10/5/2011). Acara ini dihadiri oleh pekerja antikorupsi dari 35 negara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SBY sebagai presiden mengatakan demikian, karena korupsi adalah racun yang tak ada habisnya. Dalam berbagai kasus, racun itu bocor perlahan-lahan namun pasti. Dan menurut hukum tarik-menarik, tumpahan kecil racun di tingkatan atas bisa menjadi banjir di tingkatan bawah, menenggelamkan dasar-dasar sistem yang telah dibangun.
"Sekali akar rumput melihat pemimpinnya tidak berkomitmen memberantas korupsi, mereka akan kehilangan kepercayaan," tegas SBY yang berpidato dalam bahasa Inggris.
Keyakinan pada kemampuan kolektif masyarakat untuk mengatasi kebiasaan buruk itu diperlukan untuk membongkar kasus-kasus korupsi.
"Pemimpin memimpin dengan contoh. Pemimpin hebat menyebarkan kehebatan pada para pengikutnya. Pemimpin tercela bisa menginfeksi dan membuat masyarakat tidak berdaya akan kekurangan mereka," jelas SBY.
Pelajaran penting lainnya, mungkin sulit bagi seseorang untuk menerima kritik. Namun pelajarannya, memerangi korupsi bukan zero sum game.
"Akan selalu sulit untuk menyapu lantai seluruhnya dalam sekali sapuan. Anda tidak akan dapat memenjarakan setiap koruptor. Tapi jika masyarakat bisa belajar dari contoh yang baik, mereka bisa belajar dari contoh yang buruk."
"Dan yang penting adalah bahwa para koruptor ikan besar yang ditangkap, diadili dan dihukum, menjadi contoh untuk semua ikan kecil yang mencoba untuk menjadi ikan yang lebih besar," tegas SBY.
(nwk/nrl)











































