Pangkat Aiptu Abdurrahim diusulkan naik menjadi Inspektur Dua (Ipda) Anumerta. Hal ini disampaikan oleh Kabid Humas Polda Sulselbar, AKBP Chevy Ahmad Supari saat dihubungi wartawan, Selasa (10/5/2011). Sebelum dimakamkan, jenazah disemayamkan di rumah duka, di Kompleks BTN Cenrana, Bulu-bulu, Maros.
Sementara itu jenazah dari pihak warga, Daeng Aha, yang disemayamkan di kamar mayat RS Bhayangkara, Jl Mappaoddang, Makassar, dijemput oleh Kepala Desa Laiya yang juga kerabat Daeng Aha, Rizal. Jenazah lantas dibawa dengan ambulans yang disiapkan Bupati Maros Hatta Rahman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengaku sudah lama mengenal Daeng Aha dan mengerti dengan kondisi kejiwaan Daeng Aha yang sering depresi. "Daeng Aha itu orangnya baik, dia sering berkunjung ke rumah di Camba, saya heran kenapa dia berani menyerang polisi," pungkas legislator dari PDIP Maros ini.
Bentrokan polisi dan warga terjadi pada Senin (9/5) kemarin di Kelurahan Bontojolong, Kec Turikale, Kabupaten Maros, Sulsel. Polisi hendak menertibkan kelompok yang diduga aliran sesat yang dipimpin Daeng Aha.
Daeng Aha dan pengikutnya menolak diamankan, dan menyerang polisi dengan parang. Daeng Aha langsung memarang Aiptu Abdurrahim hingga tewas di tempat. Tiga polisi lain terluka yaitu Bripka Aswan Hadi ditusuk di perutnya dan dirawat di UGD RS Bhayangkara, sedangkan Briptu Nurdin dan Briptu Hamzah hanya mengalami luka ringan. Tiga pengikut Daeng Aha juga mengalami luka.
(mna/fay)










































