MA 60 Terserang Baby Sickness Saat Retak Rudder-nya

MA 60 Terserang Baby Sickness Saat Retak Rudder-nya

- detikNews
Senin, 09 Mei 2011 18:57 WIB
MA 60 Terserang Baby Sickness Saat Retak Rudder-nya
Jakarta - Tidak hanya manusia saja yang sakit, pesawat terbang pun juga bisa sakit, meskipun masih anyar. Misalnya saja, MA60 buatan China yang pernah terdapat crack atau retakan di rudder (sayap belakang)-nya.

Gara-gara retakan itu, Direktur Utama Merpati kala itu, Bambang Bhakti, meng-grounded pesawat tersebut. Pernyataan ini disampaikannya usai rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR-RI di Gedung DPR pada pertengahan 2009 lalu.

"Ini namanya baby sickness. Kalau Anda punya anak kecil yang kadang-kadang tiba-tiba hangat tubuhnya, kira-kira seperti inilah kondisi pesawat yang baby sickness," ujar pengamat penerbangan, Kapten Rendy Sasmita Adji Wibowo S.Pd, dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (9/5/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika ditemukan kerusakan di pesawat, tentu maskapai penerbangan selaku konsumen berhak menanyakan ke pabrik pembuat pesawatnya. Si pembuat pesawat tentunya akan menyempurnakan hasil produksinya.

"Ini juga dialami Airbus A-380 yang penutup mesinnya jatuh di Batam pada November tahun lalu. Ini baby sickness juga. Kasarannya masih dibungkus plastik tapi ternyata ada yang rusak," jelas mantan pilot Garuda ini.

Menurutnya, pengontrolan kualitas produk akhir telah dilakukan produsen. Namun entah kenapa, masih ada kekurangan. Dia berpendapat fenomena semacam ini wajar dan lumrah.

"Karena itu juga pihak maskapai ada maintenance. Waktu beli maintenance bagaimana. Misalnya teknisi ada yang dikirim ke China, avioniknya dikirim ke AS, dan teknisi mesin dikirim ke Kanada," terang Rendy.

Dia menambahkan, dalam dunia pesawat dikenal pula Airworthiness Directive yang dikenal dengan AD. AD merupakan petunjuk kelaikan udara yang menjadi pemberitahuan kepada pemilik dan operator pesawat bersertifikat bahwa terdapat kekurang-amanan pada pesawat jenis tertentu. Misalnya ada mesin, avionik atau sistem lainnya yang harus diperbaiki.

"Dengan AD, bisa dikeluarkan permintaan untuk melakukan modifikasi pada pesawat tertentu. Kalau Indonesia menerima itu (dari produsen), maka Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara (DSKU) juga mengeluarkan AD yang mengacu pada pesawat tersebut," beber Rendy.

Rendy menambahkan, pesawat MA 60 bukanlah pesawat abal-abal. Pesawat ini hanya badannya saja yang dibuat di China. Sedangkan mesin pesawat dibuat oleh Pratt-Whitney Kanada yang biasa membuat mesin untuk berbagai pesawat lainnya.

"Jangan persamakan pesawat dan HP. Kalau HP buatan China nggak ada SNI-nya, maka nggak bagus. Pesawat juga pasti kan ada lisensinya, ini bukan abal-abal. Saya bukan anteknya MA 60, tapi realistis saja. Pesawat itu badannya saja yang buatan China, tapi mesinnya buatan Kanada. Mesin yang dipakai adalah buatan Pratt & Whitney, yang banyak dipakai industri pesawat," ungkap pria yang 34 tahun akrab dengan kemudi pesawat ini.

Sementara instrumen avionik, navigasi dan komunikasi MA 60 merupakan buatan Rockwell Collins, AS. Pesawat ini juga memiliki ciri khas baling-baling pedang. Ini menunjukkan pesawat generasi baru.

"Instrumen kokpit juga buatan AS yang canggih. Pilot kalau melihat itu saja bisa ngiler," kata Rendy.

MA 60 adalah jenis pesawat yang dioperasikan Merpati Nusantara Airlines. Pesawat ini jatuh ke Teluk Kaimana, Papua, pada Sabtu (7/5) lalu. Akibatnya, 25 orang yang berada dalam pesawat yang baru terbang sekitar 600 jam itu tewas.

(vit/nrl)


Berita Terkait