Aksi pada Senin (9/5/2011) dimulai dari Taman Parkir Abu Bakar Ali dilanjutkan berjalan kaki melewati kawasan Malioboro dan berakhir di titik nol kilometer Yogyakarta atau simpang empat Kantor Pos Besar. Saat longmarch, peserta membagi-bagikan berbagai leaflet mengenai gerakan palang merah dan bulan sabit merah kepada warga yang melintasi di Malioboro.
Dalam aksi itu mereka juga membawa satu mobil Haglund yang dulu digunakan saat operasi SAR di Merapi, serta beberapa mobil operasional PMI. Beberapa orang peserta mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia serta membawa poster-poster kegiatan kemanusiaan. Hal itu juga untuk mempertegas gerakan PMI, berbeda-beda budaya namun tetap satu gerakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masyarakat sudah bisa menilai PMI bukan organisasi pemerntah, golongan, suku, agama atau milik parpol tertentu. Dasar kita adalah satu untuk kemanusiaan, netral, mandiri dan sukarela," kata Bondan.
Bondan mengatakan pihaknya juga menyerukan PMI sebagai satu-satunya perhimpunan nasional palang merah di Indonesia. Oleh karena ini pihaknya mendesak pemerintah dan DPR untuk menuntaskan pembahasan RUU lambang palang merah untuk segera disahkan menjadi UU.
"Kami ingin satu negara, satu lambang dan satu gerakan," katanya.
Aksi ini cukup banyak mendapat perhatian warga masyarakat dan wisatawan yang melintas di kawasan simpang empat Kantor Pos Besar Yogyakarta. Beberapa aparat polisi lalu-lintas hanya dijaga-jaga di sekitar lokasi agar jalan tidak macet karena mobil Haglund ditempatkan di tengah perempatan dan menjadi panggung orasi.
(bgs/fay)











































