Atasi Malaria, Dinkes Jabar Upayakan Putus Vektor Penular

Atasi Malaria, Dinkes Jabar Upayakan Putus Vektor Penular

- detikNews
Rabu, 16 Jun 2004 11:53 WIB
Bandung - Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar terus mengupayakan pemutusan vektor malaria alias nyamuk Anopheles untuk mencegah penularan yang lebih banyak lagi. Prioritas utama penanggulangan dilakuan di Sukabumi Selatan, yang kini penyakit endemik tropis ini sedang mewabah. Kasubdin Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Jabar Dr Fatimah Resmiyati mengungkapkan hal ini kepada detikcom di Bandung, Rabu (16/6/2004).Dari data terakhir yang sudah masuk, di wilayah Sukabumi Selatan ini sudah ada 508 kasus penderita malaria, dan 56 orang kini dalam perawatan intensif di rumah sakit. "Kalau yang meninggal sejak Januari 2004 lalu sampai sekarang ada 8 orang. Mudah-mudahan tidak lagi bertambah," papar Dr Fatimah lagi.Dari data itu, Dinas Kesehatan Jabar memang menggolongkan kejadian di Sukabumi Selatan itu sebagai "Kejadian Luar Biasa" (KLB). "Kriterianya, jika selama 3 bulan berturut-turut terjadi lonjakan penderita yang luar biasa," tuturnya.Karena itu, untuk mencegah kejadian yang lebih buruk lagi tindakan pemutusan penularan penyakit itu langsung dilakukan. "Pemutusan vektor itu dilakukan mulai dari membasmi nyamuknya, baik menggunakan insektisida. Membagikan kelambu-kelambu di daerah berjangkitnya penyakit agar tidak ada lagi penularan, hingga menyiagakan tenaga medis dan paramedis kami," kata Dr Fatimah.Bahkan tenaga ahli yang mempunyai kemampuan di bidang "pernyamukan" atau entomology menurutnya juga sudah disiagakan. Kejadian ini menurutnya harus diperhatikan dengan serius, karena ternyata penderita yang terserang penyakit ini kebanyakan justru berada pada usia produktif. "Lebih dari 90% penderita di usia produktif, dalam artian umurnya di atas 15 tahun," katanya lagi.Dari pemetaan persoalan, di wilayah Jabar terdapat 5 daerah reseptif malaria karena adanya nyamuk Anopheles. "Kebetulan 5 wilayah itu adanya di daerah pantai selatan seperti Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Cianjur dan Sukabumi. Sedangkan di daerah pantai utara, secara geografis ternyata tidak ada nyamuk Anopheles. Kalau ada kejadian malaria di sana, biasanya karena impor dari daerah lain," tuturnya.Untuk diketahui, di daerah Sukabumi terdapat 14 kecamatan yang edemis penyakit malaria. Kabupaten Sukabumi sendiri sejak tahun 1930 dinyatakan sebagai daerah endemis malaria. Kasus berjangkitnya penyakit itu timbul tenggelam, namun tidak pernah hilang. (nrl/)


Berita Terkait