"Di perairan internasional, pembajakan dan perompakan di laut semakin rawan. Kita juga dihadapkan pada sindikat kejahatan dan terorisme internasional," kata Presiden SBY dalam pembukaan KTT ke-18 ASEAN di Gedung Jakarta Convention Center (JCC), Jl Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (7/5/2011).
Masalah keamanan dunia, menurut SBY sebagian dipicu migrasi penduduk dalam jumlah besar yang tidak teratur dan tidak legal. Keamanan yang terganggu itu tidak hanya di negara tujuan (countries of destination), tetapi juga di negara yang mereka lalui (transit countries).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di dalam kondisi dunia seperti itu, ASEAN tidak dapat hanya diam berpangku tangan. Kerjasama multi-dimensional, baik kerjasama internal di antara negara-negara anggota ASEAN, maupun kerjasama dengan negara-negara mitra di kawasan lain harus semakin diperkuat.
"ASEAN perlu lebih tanggap terhadap realitas yang berubah dengan sangat cepat, untuk menyelesaikan dan mengatasi berbagai tantangan, dan untuk meraih peluang yang muncul baik di dalam maupun di luar kawasan," lanjut Presiden.
Masalah lain adalah mengenai bencana alam yang kerap kali terjadi di kawasan ASEAN dan Asia Pasifik. Menurutnya, kawasan ini sangat rentan terhadap bencana alam. Sebagai contoh, tragedi bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda wilayah timur laut Jepang dua bulan lalu dan Aceh tujuh tahun silam.
"Kita perlu meningkatkan kapasitas dan koordinasi regional, melalui pembentukan ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on Disaster Management (AHA Centre) dan yang kedua, melaksanakan latihan bersama penanganan bencana alam," ucap SBY.
(irw/lh)











































