DPR: Motivasi UAN Lebih pada Proyek Rp 300 Miliar

DPR: Motivasi UAN Lebih pada Proyek Rp 300 Miliar

- detikNews
Rabu, 16 Jun 2004 09:40 WIB
Jakarta - Ujian Akhir Nasional (UAN) yang membuat 200 ribu pelajar SMA/MA/SMK tidak lulus, masih jadi buah bibir hingga Rabu (16/6/2004). DPR menilai ngototnya Depdiknas menggelar UAN lebih karena untuk meraup proyek UAN senilai Rp 300 miliar.Demikian disampaikan Wakil Ketua Komisi VI DPR yang juga mantan Ketua Panja RUU Sisdiknas Anwar Arifin dalam talkshow Magic Breakfast Radio Ramako-detikcom, Rabu (16/6/2004). Sekadar diketahui, anggaran untuk UAN utama mencapai Rp 260 miliar, sedangkan Rp 20 miliar untuk ujian ulangan.Anwar mengungkapkan, dalam hearing dengan pejabat Depdiknas Selasa kemarin, dia mempertanyakan mengapa Depdiknas sangat ngotot untuk menyelenggarakan UAN. Padahal UAN itu tidak sesuai dengan UU Sisdiknas No 20/2003 pasal 58 yang menyebutkan evaluasi peserta didik tidak dilakukan oleh pemerintah, tapi oleh sekolah masing-masing siswa. Pemerintah hanya mengevaluasi sarana pendidikan, bukan evaluasi kelulusan."Depdiknas tidak membaca dan tidak menghayati UU-nya. Saya lihat, motivasi UAN lebih disebabkan karena proyek Rp 300 miliar. Dulu kita kritik biaya itu terlalu tinggi. Tapi pemerintahnya ngotot (untuk menyelenggarakan UAN)," sesalnya.Depdiknas juga dinilai tidak terbuka dalam penggunaan sistem konversi yang menyebabkan siswa dengan jawaban benar lebih banyak nilainya justru akan berkurang, sedangkan yang menjawab lebih sedikit nilainya justru melonjak."(Depdiknas) tidak terbuka soal konversi dan tidak disampaikan kepada DPR. Itu namanya kita kecolongan," kata Anwar.Untuk selanjutnya, DPR tidak akan memberikan anggaran penyelenggaraan UAN pada tahun 2005. "UAN sudah menyalahi UU Sisdiknas sehingga pemerintah harus mengambil tanggung jawab atas kebijakan itu," tegasnya.Menurut Anwar, dengan menggelar UAN sebagai syarat kelulusan, Depdiknas sama saja telah mengambil alih peran guru yang lebih berwenang memberikan penilaian pada siswanya. "Asumsinya, Depdiknas tidak percaya pada guru-gurum" katanya.Ingin berbagi pengalaman tentang UAN? Ceritakan pada kami di redaksi@staff.detik.com. (nrl/)


Berita Terkait