“Tak pelu mundur dari rencana. Jika mau membangun, jangan di rawan gempa, seperti Jawa dan Sumatera. Akan lebih tepat di daerah yang tidak rawan gempa, seperti Kalimantan,” kata Kepala Bagian Informasi Energi and Material Teknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto pada acara International Conggres on Ocean Water Application di Hotel Bali Dynasti, Kuta, Kamis (5/5/2011).
Unggul mengatakan untuk mencukupi kebutuhan energi nasional di masa depan sangat membutuhkan pembangkit nulkir. “Sekarang masih bisa menggunakan batu bara. Jika kebutuhan energi mencapai ribuan mega watt, jawabannya nuklir,” ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahan bakar pun tak menggunakan uranium. Penggunaan uranium yang membututuhkan biaya mahal juga akan berurusan dengan badan dunia pengawas nuklir (IAEA). Indonesia pun tak mungkin tambang uranium karena dilarang IAEA.
Bahan bakar yang digunakan adalah thorium, seperti yang dilakukan India. Jika pemerintah serius menyediakan teknologi maka Indonesia bisa memproduksi thorium.
Persiapan membangun pembangkit tenaga nuklir membutuhkan waktu sampai 10 tahun, mulai dari perencanaan, lokasi hingga sumber daya manusia.
(gds/lrn)











































