Hal itu disampaikan Wawan pada diskusi 'Polemik RUU Intelijen' di kantor Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Jl Diponegoro, Jakarta, Kamis (5//5/2011).
"Sekarang mereka lebih merekrut orang yang berduit. Karena mereka perlu dan untuk menjalankan operasinya. Mereka sudah tidak butuh massa lagi. Toh data 2011 jumlah mereka sudah 151.000 orang," kata pengajar Lemhanas ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tengok saja pemberitaan sekarang, di mana-mana mahasiswa-mahasiswi ditipu, disuruh bayar untuk inilah untuk itulah. Itu sudah menandakan butuh dana. Basis agama tetap ada, tapi mereka tidak pandang bulu apapun. Anggota NII juga ada yang menjadi karyawan swasta. Dan ini menandakan NII sudah tidak pandang dulu lagi," tandas Wawan.
Terkait dengan indikasi penyusupan NII ke partai politik, Wawan tidak menampik. Justru dengan menempatkan anggota di NII, dianggap lebih mudah menjalankan operasi NII.
"Jangan salah (bila NII tidak bisa menembus parpol). NII juga ada di parpol. Dan sekarang juga ada yang menjadi politisi. Jadi untuk melakukan rekrutmen lebih gampang dengan pendekatan dibidang mereka masing-masing," pungkasnya.
(Ari/gah)











































