Antisipasi Teror, Polri Latih Internal Security 5 Kedubes
Selasa, 15 Jun 2004 17:11 WIB
Jakarta - Mabes Polri melatih internal security kedubes asing di Indonesia mengantisipasi teror model baru yang dilakukan Jamaah Islamiyah (JI) dari pengeboman menjadi pembunuhan dubes-dubes barat."Penanganan masalah teroris sudah dilakukan sejak bom Bali, Marriott dan sebagainya. Kita juga masih mengejar para pelaku. Kalau sekarang muncul isu-isu akan ada semacam teror lagi, memang itu yang akan dihembuskan karena keinginan kelompok-kelompok yang menghendaki Negara Nusantara Raya masih tetap ada," kata Wakabareskrim Mabes Polri Irjen Pol Dadang Garnida di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (15/6/2004).Harian The Wall Street Journal edisi Kamis (10/6/2004) memberitakan Jamaah Islamiyah (JI) mengubah taktik dari pengeboman menjadi pembunuhan dengan target dubes-dubes Barat di Indonesia. Kelompok teroris yang disebut terkait dengan Al Qaeda.Kedubes mana yang dilatih?"Tidak semua tetapi selektif. Otomatis Australia, Amerika, Inggris, Spanyol dan Belanda," ujarnya. Selain itu, lanjut Dadang, polisi juga akan mengamankan tempat-tempat yang dikunjungi orang asing seperti mall dan hotel." Jelas dong tanpa diminta, kita amankan sampai Jalan Jaksa, termasuk tempat-tempat kumpul mereka," kata Dadang.Ketika ditanya, perubahan taktik baru JI dari pengeboman menjadi pembunuhan, Dadang memastikan polisi siap mengantisipasi."Ya kan teroris ada generasinya, mungkin kalau dulu pake tebusan sekarang pake pembunuhan. Kita ikuti terus trennya karena memang berubah-ubah. Memang indikasinya mereka akan memunculkan susuatu yang baru. Jadi kita melangkah untuk antisipasi," ungkap Dadang.26 NegaraDalam kesempatan itu, Dadang Garnida menambahkan akan diselenggarakan acaraJakarta Coorperation of Law and Enforcement Centre di Semarang pada 3 Juli yang dihadiri 26 negara Asia Pasifik. "Bentuknya akan dilakukan training bersama antiteror yang dibiayai tidak hanya oleh Indonesia dan Australia tetapi juga negara donor," kata Dadang.Sudah masuk indiksi rawan?"Bukan, tetapi jumlah polisi di Indonesia tidak cukup dilihat dari rasio sehingga pemberdayaan kita serahkan sepenuhnya dan kita latih termasuk pelatihan anti pengeboman," demikian Dadang.
(aan/)











































