Bus TransJakarta yang dirilis pertama kali pada 2004 kini melayani 10 koridor. Dari semua koridor itu, kebanyakan jembatan penyeberangan menuju halte busway dalam keadaan tak beratap. Akibatnya, penumpang yang akan keluar dan menuju halte akan basah kuyup jika bertepatan dengan hujan turun.
"Katanya terus memperbaiki pelayanan, tapi kalau infrastrukturnya tidak didukung dengan baik sama saja. Itu kayak halte di Senen, ya ampun atapnya udah pada terbang semua," ujar salah satu penumpang TransJakarta, Ina (23), saat berbincang dengan detikcom, Kamis (5/5/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau satu atap yang copot kita maklum, tapi kalau udah banyak yang bolong masa mereka nggak tahu," kata wanita yang kerja di kawasan Pulogadung ini.
Ela (23) juga punya kisah tentang halte busway. Menurutnya, kadang pembatas penumpang yang ada di halte besar, misalnya seperti Harmoni, mulai goyang-goyang.
"Dulu itu bahkan saya pernah lihat dibatasin pake tali rafia," ujar Ela.
Ela juga mengeluhkan pintu halte otomatis yang berfungsi sebagai pintu keluar-masuk dari/ke bus. "Kadang pintu itu ketutup, kadang nggak, duh," ungkapnya.
Yohana (24) seorang pegawai bank swasta juga mengeluhkan kondisi di dalam bus.
"Pernah yang waktu itu pintunya rusak jadi kebuka terus, sudah itu ada yang pegas pintunya udah nggak fungsi kali ya, jadi kalau buka kayak kebanting gitu. Ampun deh," ujar Yohana.
Dia juga bercerita, kebanyakan bus untuk Koridor I Blok M-Kota, AC sudah tidak dingin lagi. Akibatnya ketika cuaca panas, kondisi di dalam bus tidak ada bendanya dengan Metro Mini.
"Pegangannya juga sudah copot," kata wanita yang tinggal di daerah Karet Kuningan ini.
Tidak hanya itu, stasiun pengisian SPBG tempat TransJakarta mengisi BBG juga sering rusak. Seperti kejadian hari Selasa. SPBG yang berada di Pesing terganggu. Akibatnya, penumpukan penumpang terjadi di koridor III karena headway bus cukup lama.
Β
(lia/nrl)










































