"Ya begini. Bau dan banyak lumpur. Setiap hari 2 truk sampah ikan datang. Setiap hari dijemur untuk jadi pakan ikan," kata Zaenal (22), pekerja pengeringan sampah ikan di perkampungan Muara Angke, Jakarta Utara, Rabu (4/5/2011).
Zaenal tidak sendiri. Dia bersama 3 teman sekampungnya di Cirebon, Jawa Barat untuk mengelola gudang tersebut. Di tanah lapang yang menyatu dengan gudang yang menebar bau bacin tersebut, keempatnya tinggal. Tidak ada rasa canggung atau jijik menangani sampah busuk tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nantinya, sampah tulang ikan yang telah dikeringkan akan diangkut lagi dan dijadikan bahan utama membuat pakan ikan. Sebelum dikeringkan. Tumpukan ikan busuk itu direbus dalam bejana raksasa dilokasi serupa.
"Alhamdulillah sehat-sehat saja. Nggak gatal-gatal atau sakit tenggorokan. Yang penting setiap hari mandi," tandasnya.
Di perkampungan nelayan itu, tidak hanya kelompok pengering sampah ikan saja. Terdapat pula nelayan tradisional, pengasin ikan, buruh pengasap maupun kuli kasar di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Muara Angke.
Sehari-hari ribuan warga tersebut menjalani rutinitas dengan sederhana, dalam bilik rumah semi permanen dan fasilitas seadanya, televisi, kulkas dan ranjang tipis yang telah mengeras. Hanya kipas angin yang sudah berisik untuk mengusir hawa panas di pesisir Jakarta tersebut.
"Karena nasib kami belum beruntung. Kami harus kerja keras, panas dan bau begini. Kalau ada uang lebih, ya buat disimpan biar nggak ngutang kalau musim hujan. Nggak ada itu mimpi punya mobil atau kerja berdasi seperti di sinetron," pungkas Zainal yang tidak menerima upah bila tidak ada sampah ikan yang dikeringkan akibat hujan.
(Ari/mad)











































