"Al Zaytun memang kerap dikunjungi politisi karena bagi Al Zaytun kami hanya membantu teman kami. Jadi kalau angkanya cocok ya bisa saja diarahkan untuk memilih partai tertentu," ujar Anto usai diskusi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (4/5/2011).
Anto menuturkan, Al Zaytun juga diarahkan untuk mendudukkan sejumlah kader di DPRD Indramayu. Bahkan ada arahan untuk memilih partai baru kala itu untuk memposisikan sejumlah kader di wakil rakyat Indramayu. Juga diarahkan untuk mensukseskan Wiranto yang pernah berkunjung ke Al Zaytun, agar memenangkan Pilpres 2004.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anto menuturkan, memang suara di Al Zaytun tidak signifikan. Namun jika dihitung sampai jaringan NII KW 9 yang dibawah komando Panji Gumilang, menurutnya, suaranya lumayan besar.
"Kalau pemilihnya di Al Zaytun mungkin hanya 8000-an, tapi kalau sampai ke jaringan bawah tanahnya kan banyak ada ratusan ribu di seluruh Indonesia. Yang di Jakarta saja ada 150.000," paparnya.
"Anggota NII KW 9 pun hanya bisa mengikuti perintah imamnya. Karena doktrin kita samina waatoqna, semua dengar semua taat, perintah pimpinan seperti perintah nabi. Ini lah yang menjadi ideologi. Jadi di bawah tidak tahu kepentingan politik, yang tahu ya para pemimpinnya," jelas Anto yang memutuskan mundur dari NII KW 9 tahun 2001 silam.
(van/gun)











































