Sebelum melakukan kegiatan pengumpulan dana tersebut, anggota NII KW 9 direkrut dari kampus-kampus. Mereka terlebih dahulu didoktrin ajaran Islam yang sudah dimodifikasi.
"Pertama saya diajarkan Islam dalam konteks kekinian, lalu diajarkan bahwa negara Indonesia adalah tidak sah. Selanjutnya saya dibaiat, tidak tahu di mana tempatnya karena ditutup mata," ujar mantan aktivis NII KW 9, Sukanto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anto yang sudah terbaiat menjadi warga NII pun akhirnya berpidah kewarganegaraan. Ia bersama temannya yang dibaiat pun akhirnya keluar dari kampusnya di UIN Jakarta.
"Saat dibaiat ada sesi pembelajaran materi hijrah dan sejarah NII. Saat materi hijrah ini kita dibaiat mengikrarkan lepas dari NKRI dan berjanji setia kepada NII. Kemudian kami ditempatkan di sel-sel untuk didoktrin NII setiap hari," tuturnya.
Sejak saat itulah Anto dipaksa mencari uang untuk organisasinya itu. Kalau tidak, ia akan dimarahi atau dilempar gelas.
"Setiap hari harus ada setoran, uang teman ambil, emas orang tua ambil. Jadi dunia ini hanya milik orang soleh dan itu orang NII jadi harta orang RI itu halal kalau dicuri. Kalau kita nggak dapat bisa dilempar gelas, memang dengan kekerasan supaya makin kuat," kenangnya.
Hingga akhirnya perjalanannya hidupnya sebagai anggota NII KW 9 berakhir saat ketahuan mencuri uang temannya. "Ketika orang dikejar aparat ini diputuskan komunikasi, jadi dilokalisir persoalannya. Ini membuat saya putus dengan jaringan. Akhirnya saya nganggur di rumah, baca buku, dialog, dan akhirnya sadar," kisahnya.
(van/rdf)










































