53 TKI ini tiba di Terminal 2, Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten, Rabu (4/5/2011), pukul 11.45 WIB. 53 TKI ini semuanya perempuan. Sebagian memakai jilbab, sebagian lagi tidak. Ada 3 orang yang membawa anaknya, seorang balita dan 2 lainnya masih bayi.
Saat turun dari pesawat, 53 TKI ini langsung mengambil barang-barangnya. Seluruh TKI diarahkan menuju ruang tunggu TKI. Mereka menutupi wajahnya dengan kerudung saat lampu blitz kamera wartawan mengenai wajah mereka.
Tak lama tiba di ruang tunggu, Menkum HAM Patrialis Akbar masuk. Patrialis kemudian menyalami beberapa TKI dan berdialog sebentar. Dalam dialognya Patrialis bertanya mengenai permasalahan para TKI di Arab.
"Apa masalahnya di Arab Saudi sana?" tanya Patrialis.
"Paspor dan KTP ditahan dan perlakuan majikan tidak manusiawi," jawab seorang TKI.
Patrialis mengatakan, pemulangan TKI ini berdasarkan hasil kerjasama pemerintah Indonesia dengan Arab Saudi. Pengalaman para TKI ini pun harus dijadikan pelajaran bagi pemerintah, PJTKI, dan masyarakat yang ingin menjadi TKI.
"Agar kesalahan ini tidak terulang lagi," jelasnya.
Menurut Patrialis, setelah ini akan ada evaluasi dengan pihak-pihak terkait seperti Menakertrans Muhaimin Iskandar. Hasil evaluasi ini akan dilaporkan ke Presiden. Selanjutnya pemerintah akan menindaklanjuti permasalahan TKI ini.
"Para TKI ini akan diwawancarai oleh Kemenkum HAM untuk mengetahui permasalahannya. Hasil wawancaranya akan dijadikan bahan evaluasi ke depan," ungkapnya.
Para TKI ini selanjutnya akan dipulangkan ke daerahnya masing-masing. Pemerintah akan memfasilitasi kepulangan 53 TKI ini.
"Mereka dipersilakan pulang dan difasilitasi oleh pemerintah dan BNP2TKI," katanya.
Untuk kepulangan TKI lainnya, KBRI di Arab Saudi dan terus berkoordinasi dengan pemerintah Arab Saudi. Dari 22 TKI yang divonis mati, ada 2 orang yang bisa dibebaskan. Sisanya akan diupayakan agar tidak dieksekusi di Arab Saudi.
"Masalah TKI pada umumnya adalah ketidakmampuan mereka untuk berbahasa Arab dan mengetahui budaya dan kebiasaan di Arab Saudi," tandasnya.
(gus/fay)











































