Hal ini disampaikan seorang mantan lurah NII KW 9 berinisial J, dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (3/5/2011). Menurut dia, saat itu setiap anggota diwajibkan menyetor dana Rp 250 ribu per hari. Modusnya dengan menyebar kotak amal di ATM, halte bus dan tempat keramaian.
"Awal dulu saya coba cari Rp 250 ribu sehari tidak sulit. Pas waktu itu ada bencana Tsunami Aceh. Saya putar kotak sehari bisa dapat Rp 350 ribu. Temen saya cewek sampai didrop ke Yogyakarta. Di Malioboro muter ke warung-warung pakai kotak amal. Juga di beberapa ATM-ATM. Kalau tidak, ya dengan cara buat yayasan fiktif. Saya juga sempat mengajukan proposal ke anggota DPR dan cair," jelas J.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demi mengumpulkan uang, seorang pengikut NII KW 9 rela mengorbankan keluarga mereka. J mengisahkan istrinya menggadaikan sertifikat tanah milik orangtuanya untuk menombok uang setoran Rp 250 ribu perhari yang menumpuk menjadi Rp 15 juta. Jika nanti ada razia terhadap pengikut NII, mereka dengan mudah meloloskan diri seperti yang pernah terjadi di Semarang.
"Saat operasi, yang cewek-cewek langsung melepas jilbab mereka supaya tidak dicurigai polisi. Tidak kentara. Biar adem dulu baru beroperasi lagi. Kalaupun mereka tertangkap mereka sudah didoktrin tidak menyebutkan nama pemimpin mereka," jelas J.
J memutuskan keluar dari NII KW 9 setelah menyadari hadits-hadits yang didoktrinkan ternyata tidak jelas riwayat hadits-nya. "Hadits-hadits yang didoktrinkan ternyata pernyataan Panji Gumilang sendiri. Sebelum keluar, saya sudah berencana akan menemui Pak Panji untuk menanyakan soal hadits namun dicegah pemimpin saya disini," ungkapnya.
Setelah keluar dari NII KW 9, J sempat diteror oleh jaringannya. Mulai dari ajakan persuasif, sampai ancaman pembunuhan, pernah diterima J. J mengatakan NII KW 9 sudah menghalalkan dirinya untuk dibunuh.
"Saya sudah dihalalkan oleh mereka untuk dibunuh karena keluar itu. Berbagai teror saya terima diantaranya didatangi langsung oleh pemimpin saya. Tanpa tedeng aling-aling walaupun ada tetangga atau tamu dirumah, saya dimaki-maki," jelas J.
Bukan hanya itu yang membuat J dibenci kelompoknya. J juga mengajak 10 orang yang pernah direkrutnya untuk keluar dari NII KW 9.
"Sekarang sudah saya ajak keluar dari NII, mayoritas mereka wanita. Saya merasa berdosa dan bersalah. Rata-rata begitu mereka keluar, langsung saya suruh menikah atau mencari suami sebagai upaya perlindungan. Namun, hal itu tidak memutuskan teror yang dilakukan mantan pemimpin di NII baik dengan sms atau dengan cara lainya," tuturnya.
J mengimbau mahasiswa dan masyarakat awam supaya berhati-hati dan jangan mudah percaya dengan ajakan mengaji yang tidak jelas tujuanya. "Jangan berpikiran sempit. Islam tidak sesempit yang dibayangkan saat saya masih menjadi lurah di NII," kata J mengakhiri obrolannya.
(fay/fay)










































