Jenazah korban baru ditemukan Senin (2/5/2011) di atas jalan raya Gulon-Sirahan, tepatnya di pinggir Kali Putih di Dusun Salakan, Desa Sirahan, Salam. Jalan itu kini putus dan tak bisa dilalui lagi karena menjadi jalur banjir lahar dingin.
Menurut keponakan korban, Prawiro (40), pihak keluarga sudah semalaman mulai hari Minggu (1/5) mencari keberadaan Mbah Dirjo Pawiro. Namun hingga pagi hari tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan korban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ditemukan korban mbah Dirjo Prawiro dalam posisi tertelungkup dan sudah tidak bernyawa. Sejumlah warga yang ikut mencari almarhum sempat mengira jenazah Dirjo yang tertelungkup itu dikira sebatang kayu.
"Soalnya baju dan celana sudah dipenuhi lumpur dan pasir. Kepalanya tertutup oleh bajunya yang sudah berwarna hitam kecoklatan. Malah awalnya kita kira itu sebatang kayu. Ternyata Jenazah Mbah Dirjo," tutur saksi mata Rusli Nasti.
Rusli menegaskan korban meninggalkan rumah pada Minggu malam pukul 22.00 WIB. Ia hendak buang air besar (BAB) di sungai kecil di dekat rumah karena tidak memiliki WC sendiri. Namun diduga tidak tahu jika Kali Putih sedang banjir lahar dingin sedang terjadi Mbah Dirjo hanyut terbawa arus banjir.
Untuk diketahui, aliran banjir dari Kali Putih dan Kali Jlegong seringkali menjebol tanggul di Dusun Nglumpukan, Seloboro. Banjir ini melewati perkampungan dan kemudian mengalir melewati jalan raya Gulon-Sirahan. Air banjir inilah yang menyeret tubuh Dirjo Pawiro hingga ke Dusun Salakan.
Kepala Desa Seloboro Sukistiyanto saat dikonfirmasi detikcom membenarkan bahwa aliran banjir memang melewati Dusun Nglumpukan dan jalan raya.
"Korban terseret sampai sekitar 500 meter karena banjir cukup besar. Kebetulan korban sudah berusia lanjut sehingga tidak bisa menyelamatkan diri saat terjatuh. Sebelumnya, korban sudah jatuh sampai empat kali namun bisa diselamatkan warga," ucap Sukistiyanto.
Sukistiyanto menambahkan banjir lahar di Kali Putih telah menimbulkan kerusakan besar di desanya. Bangunan asrama dan laboratorium sekolah SMK Negeri Pertanian Salam yang terletak di Dusun Krapyak bahkan rusak parah akibat banjir.
Untuk rumah rusak, kata dia, ada delapan rumah yang terdapat di Dusun Krapyak dan Nglumpukan. Saat ini warga ditampung di rumah kosong dan rumah warga di Dusun Gajahan. "Sedang kami carikan hunian sementara untuk mereka," tukas Sukistiyanto.
(anw/anw)











































