Meski Osama Tewas, Jihad Al Qaeda Ditengarai Tidak Ikut Tewas

Meski Osama Tewas, Jihad Al Qaeda Ditengarai Tidak Ikut Tewas

- detikNews
Senin, 02 Mei 2011 14:02 WIB
Meski Osama Tewas, Jihad Al Qaeda Ditengarai Tidak Ikut Tewas
Jakarta - Kepastian tewasnya Osama bin Laden telah disampaikan Pemerintah AS. Kendati pentolan Al Qaeda itu tewas, belum tentu jihad a la Al Qaeda ikut tewas. Sebab jihad a la Al Qaeda adalah persoalan ideologi, bukan individu.

"Gerakan yg mengatasnamakan jihad di bawah payung Al Qaeda pada skala internasional, tidak akan berpengaruh besar. Mereka akan kehilangan figur sesaat namun
pemimpin baru akan segera muncul, seperti Ayman al Zawahiri dan Anwar Al-Awlaki"
ujar pengamat terorisme Noor Huda Ismail dalam perbincangan dengan detikcom, Senin
(2/5/2011).

Dalam konteks Indonesia, imbuhnya, sudah tertangkap ratusan pelaku tindak pidana
teroris. Meski demikian, gerakan tersebut tetap ada. Gerakan Osama sudah menjadi
gerakan ideologi, bukan individu lagi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Amerika melakukan injustice, lalu dibalas, ini telah menjadi ideologi. Ini akan ada
terus," sambung Noor Huda.

Menurutnya, serangan Osama yang paling spektakuer hanyalah yang dilakukan pada 11
September 2011. Sedangkan serangan-serangan lain yang dilakukan di negara lain
hanyalah 'franchise'.

"Bin laden itu inspirasi. Jadi proses rekrutmentnya adalah bottom up, orang yang di
bawah mencoba kaitkan dengan gerakan yang besar. Misal di Aceh kemarin, saya tidak
yakin Osama yang kasih instruksi, tapi mereka yang mengaitkan diri dengan Al
Qaeda," terang alumnus sebuah perguruan tinggi di Inggris ini.

Dia menambahkan, selama ini Osama tidak mengeluarkan fatwa khusus untuk melakukan
serangan di suatu tempat. Yang dikeluarkan Osama hanyalah fatwa pada 1998 yang
mengatakan musuhnya adalah Amerika.

"Nah di kita yang dilakukan adalah bukan karena fatwa khusus Bin Laden. Saya mengira
gerakan terorisme itu kelompok kecil dan cenderung disorientasi, saya kira mereka
bergabung kembali, dan musuhnya bukan polisi tapi Amerika," tutur Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian itu.

Dengan tewasnya Osama di Pakistan, Noor Huda tidak yakin AS akan segera menarik militernya yanbg terlibat operasi militer di negara lain yang dikirim terkait terorisme. "Nggak mungkin. Mereka akan katakan, kita harus terus mengejar menyelesaikan. Nggak yakin akan segera cabut. Alasannya, kayak misalnya belum tertangkapnya orang (Al Qaeda) yang lainnya," ucap penulis buku 'Temanku, Teroris?' ini.

Osama selalu dikaitkan disalahkan terkait sejumlah serangan mengerikan. Bahkan pemerintah AS pernah menawarkan US$ 50 juta bagi yang mengetahui keberadaan Osama. FBI menyebut Osama masuk dalam daftar 10 buronan paling dicari.

Kematian Osama telah beberapa kali mencuat. Misalnya saja dalam buku Osama Bin Laden: Dead or Alive? yang ditulis oleh analis politik dan filsuf Professor David Ray Griffin.

Dalam buku karya mantan profesor emeritus di Sekolah Teologi California Claremont itu disebutkan, Osama meninggal karena gagal ginjal atau keluhan semacam itu, pada 13 Desember 2001. Osama meninggal saat tinggal di pegunungan Tora Bora, Afghanistan, dekat perbatasan dengan Waziristan. Penguburannya dilakukan dalam waktu 24 jam, sesuai dengan aturan Islam. Kuburan Osama tidak diberi tanda, dan ini merupakan kebiasaan Wahhabi.

Pada Senin (2/5), Presiden AS Barack Obama memastikan, Osama tewas di pinggiran Islamabad, Pakistan. Pria kelahiran Arab Saudi itu tewas dalam operasi intelijen AS yang menargetkan sebuah gedung di pinggiran Islamabad dengan luka tembak di kepala.

Osama telah diburu Angkatan Bersenjata AS sejak serangkaian serangan terhadap
target-target Barat termasuk serangan 11 September 2001 di New York dan Washington.


(vit/asy)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini