"Pro dan kontra itu wajar saja. Segala kritik itu biasa terjadi. Yang penting, peristiwa ini harus dijadikan pelajaran ke depan harus ada satuan tugas khusus," ujar Ketua Pokja Antiteror Dewan Ketahanan Nasional, Wawan Purwanto kepada detikcom, Minggu (2/5/2011).
Wawan menjelaskan pilihan pemerintah untuk mengedepankan negosiasi sudah tepat. Menurutnya, saat kapal sudah berada di pelabuhan yang dikuasai perompak, operasi militer jauh lebih sulit dilakukan. Resiko jatuhnya korban juga sangat besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya hal yang utama adalah para sandera telah selamat. Hal itu sudah tercapai. Ke depannya, pemerintah perlu melakukan tindakan agar kasus ini tidak terulang.
"Ini harus jadi perhatian serius," pesan pengamat militer dan intelijen ini.
Sebelumnya TNI menjelaskan telah mengirim kapal perang dan pasukan elit ke perairan Somalia. Ada 800 personel TNI, termasuk 300 pasukan elit di dalamnya dari Marinir, Kopassus dan Kostrad.
Kapuspen TNI, Laksda Iskandar Sitompul menceritakan, Presiden SBY telah memerintahkan Panglima TNI untuk melakukan operasi militer. Namun karena keadaan selalu berubah dan pemerintah serta perusahaan pemilik kapal, PT Samudra Indonesia memprioritaskan keselamatan Anak Buah Kapal, operasi militer ditangguhkan.
"Sandera tidak dijadikan satu dan selalu dipindah-pindah. Ini satu kendala kenapa operasi militer tidak dilakukan," katanya dalam jumpa pers.
(rdf/ahy)











































