Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, dalam pidato pembukaan Rakornas Partai Golkar di Sunan Hotel, Solo, Jumat (29/4/2011) petang.
Ical mengaku ide itu muncul setelah sejumlah petinggi Partai Golkar datang ke Cina untuk melakukan tukar pengalaman dengan Partai Komunis Cina (PKC). PKC, kata Ical, memiliki sekolah kader yang kuat dan mapan. Seluruh kader partai diwajibkan menempuh pendidikan di kampus tersebut sehingga semua kader memiliki kecakapan yang mumpuni untuk mengelola partai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Ical mengingatkan, sikap kutu loncat politik yang terdorong oleh kepentingan pribadi tidak akan benyak memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa. Dalam berpolitik, lanjut Ical, dibutuhkan sikap konsisten dan istiqomah untuk mampu menghasilkan kerja yang nyata bagi kemakmuran rakyat.
Dalam wawancara dengan wartawan sesuai acara penutupan, Ical yakin ulah sejumlah kader partainya yang pindah atau mendirikan partai baru tidak akan berpengaruh bagi Golkar. Golkar diyakininya telah memiliki sistem yang tangguh untuk tidak bergantung pada sosok-sosok tertentu.
"Golkar partai besar, tak mudah digembosi seperti itu. Bahkan hampir para elit politik partai besar yang ada saat ini, sebagian besar pernah menjadi kader di partai ini. Namun toh Golkar juga tetap eksis," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar, Akbar Tandjung. Menurut Akbar, kepindahan kader-kader seperti itu bukan hal yang baru bagi Golkar. Bahkan, menurutnya, Golkar pernah mengalami kondisi dan tekanan politik yang lebih buruk dibanding saat ini. Namun demikian Golkar tetap mampu bertahan dan besar.
(mbr/van)











































