"Anda telah memilih tempat yang tepat untuk sebuah konferensi global terhadap perekonomian hijau. Kami sekarang berada di tengah-tengah kampanye ambisius untuk menanam 1 miliar. Ya, 1 miliar pohon di seluruh Indonesia. Jika ada yang tertarik untuk menanam pohon di bawah nama Anda, beritahu kami," ujar SBY.
SBY mengatakan itu dalam keynote speech dalam acara Business for the Environment yang berlangsung di Hotel Sangri-La, Jakarta, Kamis (28/4/2011). SBY disambut tawa ratusan hadirin yang umumnya warga asing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Inilah sebabnya mengapa pertemuan Anda di sini sangat penting untuk menunjukkan bahwa masalah iklim sangat penting. Meskipun tantangan ekonomi yang sulit, kami terus menekan untuk mencari solusi umum untuk masalah-masalah global," kata SBY.
SBY menambahkan, pada 2050 mendatang, populasi penduduk dunia akan mencapai 9 miliar orang. Umat manusia akan membutuhkan banyak udara bersih, makanan, energi, air, dan sumber daya lainnya. Namun, menurut beberapa perkiraan, pada 2050 sumber daya energi hanya sebesar 40 persen dan suplai makanan 60 persen.
"Hari ini kita terus kecanduan minyak. Sementara sumber bahan bakar non fosil energi terus berkurang. Emisi gas rumah kaca juga terus naik menuju titik kritis berbahaya," tutur SBY.
Pada UNFCCC COP 16 di Meksiko beberapa tahun lalu, menurut SBY, Indonesia datang dengan ide inovatif mendirikan 'Dana Hijau' untuk memastikan kiriman dana untuk meningkatkan tindakan terhadap perubahan iklim di negara berkembang.
"Pertanyaan besar adalah apakah negara maju dan berkembang sekarang dapat bergerak dan datang dengan solusi transformatif?" tanya SBY.
Sebagai Negara berkembang, Indonesia menurut SBY terus memodifikasi tujuan ambisius untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
"Saya juga percaya bahwa negara-negara maju harus memimpin, dan negara-negara berkembang juga harus berbuat lebih banyak. Menemukan bahwa keseimbangan yang tepat dan pembagian hak kerja antara negara maju dan berkembang tidak mudah, tetapi tanpa itu, tidak akan ada stabilitas iklim untuk planet kita," papar SBY.
Indonesia, lanjut SBY, tidak pernah malu untuk mendorong kerjasama
penanggulangan perubahan iklim. Dan dengan dukungan dari komunitas
bisnis internasional, Indonesia yakin dapat menerapkan ekonomi hijau
untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 7%, dan 26% pengurangan emisi gas rumah kaca dari bisnis pada tahun 2020.
"Untuk mencapai tujuan tersebut, Indonesia secara serius mengembangkan
skema hutan untuk mengurangi gas rumah kaca yang berasal dari sumber-sumber terestrial, seperti dari hutan dan lahan gambut," kata SBY.
SBY menjelaskan, Indonesia saat ini memiliki lebih dari 30 juta hektar
lahan rusak yang semestinya penting untuk pertumbuhan berkelanjutan
ekonomi. Ini berarti ada lahan yang cukup tersedia untuk produksi
ekonomi.
"Saya senang mengumumkan bahwa pemerintah kami akan memberikan akses ke lahan terdegradasi untuk industri yang serius dalam memperluas atau berencana untuk berinvestasi di lahan ini. Demi kesejahteraan rakyat
kita dan untuk masa depan planet kita," tutup SBY.
(anw/nik)











































