Meski banyak kasus yang sering terjadi di KRL, PT KAI atau Kereta Commuter Jakarta dinilai masih belum memperbaiki pelayanannya.
"Kejadian yang seperti ini bukan pertama kali terjadi. Sudah sering dan banyak kasus. Bahkan kita sudah pernah diskusikan ini ke PT KAI dan KCJ tapi hingga kini belum ada perbaikan," ujar anggota KRL-Mania, Rosmana, saat dihubungi detikcom, Kamis (28/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia terpaksa memegang di sayap pembatas yang ada kipas angin. Kalau rem mendadak kadang tangan bisa saja masuk seperti itu," ujarnya.
Rosmana mengaku komunitasnya sudah sering berkomunikasi dengan pihak PT KAI untuk membicarakan sejumlah masalah keselamatan penumpang di dalam KRL. Namun hingga kini memang belum ada yang terealisasikan dari hasil diskusi dengan PT KAI.
"Kita juga sering kasih masukan KRL ekonomi yang pegangannya susah. Itu urgent karena saking penuhnya," ungkapnya.
Rosmana yang juga setiap hari menumpang KRL ini menilai tidak hanya masalah pegangan yang menjadi masalah. Pintu KRL ekonomi yang selalu tidak ditutup juga sangat membahayakan penumpang.
"Sekarang kenapa nggak diperbaiki. Pintunya harusnya ditutup. Pegangannya diperbanyak. Kipas angin ditutup. Ya entah bagaimanalah caranya agar tidak membahayakan penumpang," jelasnya.
Sebelumnya seorang penumpang KRL ekonomi Ari DN mengalami kerusakan pada jari manis kirinya karena kesabet kipas angin yang tidak ada tutupnya. Jari manis Ari hancur. Ari pun masih dirawat di rumah sakit. Menurut dokter, jari manis Ari harus diamputasi atau diberi pen.
(gus/nrl)










































