"Ya ini memang unik ya, pemimpin NII Panji Gumilang memang pemimpin TII (Tentara Islam Indonesia) dia mendapat bantuan dari militer era Soeharto dan luar biasa asetnya itu," ujar Fatwa kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (27/4/2011).
Fatwa menuturkan Panji Gumilang sengaja dirangkul militer untuk bersama-sama mengamankan negara. Kala itu Panji juga dikenal Fatwa dekat dengan intelijen.
"Memang ada hubungan emosional antara Panji Gumilang dengan TNI dan intelijen. Panji Gumilang ini adalah orang lama," tuturnya.
Kinerja intelijen zaman dulu, menurut Fatwa, memang memungkinkan masuk ke dalam organisasi yang dianggap berbahaya. Namun ia tak berspekulasi mengenai cara kerja intel saat ini.
"Kalau kinerja intel zaman dulu bisa. Waktu zaman-nya TII ada intel namanya Najamudin dia disisipkan di TII untuk memprovokasi, tapi akhirnya dia ketahuan dan dibunuh," tuturnya.
Sementara itu, pengurus Pesantren Al Zaytun di Indramayu, Jabar, menyangkal lembaganya terkait NII. "Al Zaytun ini pusat pendidikan, pengembangan budaya toleransi, bukan yang lainnya. Dan Al Zaytun ini berdiri di atas legal formal di bawah Yayasan Pesantren Indonesia," kata Sekretaris Pesantren Al Zaytun, Abdul Halim, kepada detikcom, Kamis (14/4/2011).
(van/ndr)











































