"Jakarta itu sebenarnya produk reklamasi, kalau tidak ada reklamasi bisa jadi Jakarta cuma sampai Depok," ujar ahli bencana Eko Teguh Paripurno dalam diskusi bertema 'Dampak Reklamasi Pantai Terhadap Ekosistem Teluk Jakarta' di Komplek Liga Mas Indah Pancoran, Jakarta, Rabu (27/4/2011).
Eko mengatakan karena perubahan di darat begitu cepat karena intervensi manusia, maka laut tidak bisa beradaptasi. Terjadi penambahan daratan, sedimentasi dan perubahan pola sungai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Eko, dulu Benyamin S bernyanyi Jakarta banjir karena got mampet. Saat ini bukan hanya got, tapi seluruh sistem pengairan kacau karena pembangunan di Jakarta melawan sistem hidrologi.
"Seharusnya sungai diberikan kebebasan mendistribusikan airnya, ternyata tidak diberikan. Dari sisi tata kelola air akan muncul prinsip kalau hujan sebentar langsung banjir, kalau nggak hujan sebentar langsung kekeringan. Air di Jakarta berputar di situ-situ saja, kalau kita minum air panas sebenarnya sirkulasi dari air kencing diminum dan seterusnya," jelasnya.
Solusinya menurut Eko, reklamasi yang baik bisa dilakukan, yang salah adalah orang berpikir untuk hanya mencari untung. Dalam menangani banjir, seharusnya Jakarta bekerja sama dengan Bogor untuk mengelola Daerah Aliran Sungai (DAS).
"Tapi ini belum pernah dilakukan. Bikin bio pori, jangan hanya di DKI tapi di tempat DAS itu ada," ungkapnya. Solusi sebenarnya ada, tapi tidak pernah ada kebijakannya. Perencanaannya bagus tapi ketika pelaksanaanya rontok," tutupnya.
(mpr/fay)










































