"Teroris mustahil bekerja sendiri pasti sedikit berjaringan. Tapi yang terjadi sekarang karena pemimpinnya mulai hilang jadi mereka berjihad tanpa komando. Jadi target teroris sekarang ini makin berbahaya karena targetnya random. Siapapun bisa dianggap thoghut dan jadi target, jadi suka-suka dia," ujar Psikolog dari Universitas Indonesia, Hamdi Moeloek, dalam diskusi di Gedung DPD, Senayan, Jakarta, Rabu (27/4/2011).
Karenanya, aparat keamanan harus bekerja maksimal. Memangkas jaringan teroris tak lebih mudah dari memangkas jaringan narkoba.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disinilah kinerja intelijen diperlukan. Menjadi tugas utama intelijen mengendus aksi underground sebelum jaringan teroris menebar ancaman teror di tengah masyarakat.
"Suplai memang urusan badan intelijen. Siapa yang jihad keras-keras ini urusan intelijen harus nyari di mana tempat jihadnya, siapa aja pesertanya. Karena ini kerjaan ulama yang menyelewengkan ajaran Islam," tandasnya.
(van/gah)











































