"Pak Wapres tadi minta kepada Mendiknas dan Menteri Agama untuk mempertajam program-program sekolah, kurikulum, termasuk peningkatan kualitas tenaga didiknya," kata Menteri Agama Suryadharma Ali usai mengikuti rapat tentang Komite Pendidikan di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (26/4/2011).
"Dan juga termasuk kontrol terhadap, kalau pendidikan agama, ya, ajaran agamanya kira-kira terkontrol-lah," sambung Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini.
Suryadharma menambahkan, pelajaran wawasan kebangsaan, misalnya, sekarang ini perlu diberikan lagi di sekolah. Di semua lembaga pendidikan, ia melihat pendidikan nasionalisme itu sudah sangat menurun.
"Dulu waktu kita sekolah itu semua lagu-lagu kebangsaan hafal semua, ada upacara, nyanyi, sekarang tampaknya sudah kurang mengajarkan itu. Ini harus dievaluasi," terangnya.
Suryadharma menambahkan, untuk menangani masalah NII ini memang diperlukan dua pendekatan, yaitu preventif dan kuratif. Pendekatan preventif adalah bagaimana agar ajaran itu tidak masuk ke sekolah- sekolah dan universitas. Sementara kuratif berarti pemberian tindakan hukum bagi pelaku yang menyebarkan paham itu.
Mantan Menteri Koperasi dan UKM ini mengatakan, pihaknya sedang menunggu hasil penelitian yang diharapkan dapat menjawab persoalan NII itu secara keseluruhan, termasuk apakah benar guru-guru agama terlibat. Penelitian tersebut dilakukan oleh para peneliti di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
"Insya Allah nanti akan kita undang-bagaimana penelitiannya, metodologinya yang dia sebut intoleransi di guru agama di sekolah-sekolah, yang diteliti di sekolah mana saja dengan demikian akan dapat dengan mudah diketahui guru agama yang mana mengajarakan kekerasan, pemahaman yang keras pemahaman yang radikal," jelasnya.
(irw/gun)











































