"Sesuai prosedur, TNI memberikan tembakan peringatan. Tetapi malah dibacok, akhirnya diberikan perintah mengganti magasen peluru hampa dengan magasen peluru karet dan menembak," ujar Danrem 072/Pamungkas Kolonel Kav Sumedy dalam penjelasannya di Depan Komisi I DPR, di Senayan, Jakarta, Selasa (26/4/2011).
Sumedy menceritakan setelah merusak gapura dan membakar gudang amunisi milik Dislitbang, warga juga berorasi di depan Markas Dislitbang. Mereka meminta TNI menghentikan latihan dan memaki-maki TNI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sumedy lalu menjelaskan kronologi insiden Kebumen yang terjadi tanggal 16 April itu.
Pukul 09.00 WIB
Sekitar 100 orang Berkumpul di Pantai Setrojenar. Mereka tergabung dalam Forum Paguyuban Petani Kebumen (FPPK).
Pukul 11.00 WIB
Warga mulai anarki. Mereka merusak antena dislitbang dan membakar gudang amunisi.
Pukul 12.30 WIB
Warga mulai melakukan pemblokiran jalan dengan balok kayu.
Pukul 13.30 WIB
Massa berorasi di depan Markas Dislitbang. Mereka memaki TNI Anjing dan TNI bangsat. Massa juga memotong penyeimbang antena Dislitbang.
Tidak lama kemudian TNI mengerahkan pasukan dari Yonif 403 di depan madislitbang. Massa diberi peringatan tapi massa malah membacok personel TNI.
Komandan Batalyon memerintahkan mengganti magasen dengan peluru karet dan melepaskan tembakan untuk menghalau massa.
Pasukan melakukan penangkapan pada massa provokator. Untuk kemudian diserahkan pada kepolisian. Dalam insiden ini sejumlah warga terluka.
(rdf/gun)











































