Rumah bercat jingga yang terbilang luas itu terlihat lengang. Pintu pagar tertutup rapat oleh gembok. Garasi rolling door bercat coklat juga tertutup rapat. Debu jalan terlihat menempel di pintu garasi.
"Sejak penangkapan keluarganya sudah nggak ada di sini," kata salah seorang tetangga yang tinggal di seberang rumah IF, Supriadi (63), saat ditemui wartawan, Selasa (26/4).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Widi menuturkan, sehari-hari tidak ada hal yang terlihat mencurigakan dari gerak-gerik IF. Layaknya pekerja kantoran, IF berangkat pukul 8.00 WIB dan pulang pukul 17.00 WIB.
"Orangnya baik, suka ngobrol sama warga," kata Supriadi.
Kabar penagkapan IF yang terlibat aksi teror, diakui Supriadi, diketahui satu hari setelah penangkapan, Jumat (22/4) siang. Itu pun diketahuinya dari banyaknya wartawan yang hilir mudik di kawasan rumahnya.
"Enggak sangka sama sekali kalau dia (IF) ditangkap Densus 88," katanya.
Senada dengan Supriadi, Ketua RT setempat, Widiyono (57), juga mengaku tidak mengetahui perihal penangkapan warganya itu.
"Saya tahu warga saya itu ditangkap ya Jumat siangnya," kata Widi.
Kasni (57), tetangga sebelah kediaman IF, juga tidak mengira jika IF yang dikenalnya sejak kecil ditangkap Densus 88 karena diduga terlibat aksi teror bom.
"Pagi sebelum ditangkap dia sempat nge-shoot anaknya yang Kartini-an," kata Kasni.
Dia pun menuturkan, selama dirinya mengenal IF tidak ada perangai mencurigakan yang ditonjolkan IF, apalagi soal terorisme. "Saya sering ngobrol sama dia, kalau ada orangtua dia selalu negur," katanya.
(ahy/gah)










































