Demikian pernyataan Wakil Presiden Boediono saat membuka Seminar "The Strategic Balance in Asia: Cooperation & Competition' memperingati ulang tahun ke-28 Harian Nasional berbahasa Inggris 'The Jakarta Post' di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Selasa (26/4/2011).
"Jika kita benar-benar serius ingin menciptakan Komunitas ASEAN pada tahun 2015, kita semua harus bekerja keras untuk mengubah citra ASEAN sebagai organisasi elitis dan organisasi antar-pemerintah, menjadi lebih benar-benar dimiliki dan diasuh oleh komunitas yang lebih besar, yaitu masyarakat ASEAN," kata Boediono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Boediono mengatakan, RI ikut mengupayakan terwujudnya transisi menuju demokrasi untuk ASEAN. Indonesia menempatkan promosi demokrasi dalam agenda ASEAN, seperti tercermin dalam penyelenggaraan Bali Democracy Forum tiap dua tahun, yang tidak hanya dihadiri anggota ASEAN, melainkan Asia Pasifik.
RI, kata mantan Gubernur Bank Indonesia ini, juga terus mendorong kampaye perlindungan HAM. Bahkan, atas desakan Indonesia, ASEAN telah membentuk ASEAN Inter-Governmental Commission on Human Rights (AICHR), komisi HAM pertama di Asia Pasifik.
"Indonesia akan terus bekerja untuk memperkuat kepedulian masyarakat di bawah pilar sosial-budaya. Antara lain, Indonesia adalah mendorong kerjasama di bidang pendidikan, kesehatan dan manajemen bencana," kata Boediono.
Sebagai Ketua ASEAN saat ini, ada dua prioritas yang dikedepankan RI untuk mewujudkan Komunitas ASEAN tahun 2015. Pertama, memastikan komitmen di antara negara-negara ASEAN. RI juga akan memastikan perjalanan menuju Komunitas ASEAN 2015 itu tetap mematuhi norma, ruh, dan prinsip-prinsip Piagam ASEAN.
"Kedua, memastikan suatu lingkungan regional yang kondusif. Sebuah lingkungan regional yang stabil dan damai sangat penting untuk mengejar pembangunan ekonomi dan sosial," cetusnya.
(irw/nwk)











































