Ancaman Konflik Lahan di Sumsel Lebih Bahaya Dibanding Terorisme

Ancaman Konflik Lahan di Sumsel Lebih Bahaya Dibanding Terorisme

- detikNews
Senin, 25 Apr 2011 16:30 WIB
Palembang - Bentrokan di Mesuji, Kabupaten Ogan Kemering Ilir, menunjukkan kalau konflik berdarah rawan terjadi di Sumatera Selatan. Di Sumsel, potensi konflik lahan ini bisa lebih berbahaya dari ancaman terorisme.

"Ancaman konflik lahan ini lebih berbahaya dari ancaman terorisme," kata Wakil Ketua DPRD Sumsel Jauhari, kepada detikcom, Senin (25/4/2011).

Jauhari meminta semua pimpinan daerah, anggota dewan, aparat kemanan, perusahaan perkebunan, warga, serta lembaga-lembaga yang berkepentingan duduk satu meja. Konflik tanah harus dibahas tuntas untuk mencegah konflik serupa terulang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebab konflik lahan akan melahirkan berbagai bentuk kekerasan, dan sifatnya panjang. Bukan tidak mungkin, mereka yang menjadi korban konflik lahan akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu menjadi teroris," ujarnya.

Jadi, kata Jauhari, bila ada konflik berdarah seperti di Mesuji, bukan hanya kepala daerahnya yang disalahkan. "Saya yakin tidak ada kepala daerah yang mau ada konflik seperti itu. Ishak Mekk (Bupati OKI-red) tentu sangat tidak ingin adanya konflik tersebut. Apalagi dalam waktu dekat ini akan ada Jambore Nasional di OKI," ujarnya.

Oleh karena itu, dari pada saling menyalahkan, sebaiknya semua pihak berunding, menenangkan situasi, dan menyelesaikan persoalan yang menjadi latar bentrokan secara baik-baik. Sementara Darmadi Djufri, anggota DPRD Sumsel dari Fraksi PDI Perjuangan, menilai konflik berdarah di Mesuji, menunjukkan lemahnya peranan aparat keamanan di Indonesia, khususnya di Sumatera Selatan.

"Kalau aparat keamanan bekerja secara optimal, saya yakin tidak akan ada bentrokan itu. Caranya, aparat bersikap netral dan fokus pada persoalan keamanan," ujarnya.

Darmadi menilai konflik di Mesuji, harus dipisahkan menjadi dua hal. Persoalan lahannya jangan dibawa ke ranah hukum melainkan perundingan, sebab kalau tidak, rakyat akan kalah.

"Jika rakyat kalah, konflik tidak akan selesai, akan ada benih dendam di masyarakat yang sewaktu-waktu akan meledak lagi. Sementara persoalan bentrokan yang menyebabkan tewasnya nyawa orang, itu tetap diproses secara hukum," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada Kamis (21/4/) terjadi bentrokan antara warga Desa Sungai Sodong, Kecamatan Mesuji, OKI, Sumatera Selatan, dengan karyawan keamanan PT SWA, yang menyebabkan tujuh orang tewas.

(tw/fay)


Berita Terkait