Agar tidak muncul tudingan miring pada DPR, PAN menyarankan sebaiknya proyek pembangunan gedung DPR ditinjau ulang. Berkaca pada PT DGI yang tersandung masalah.
"Sampai sekarang ini kita tetap berkeinginan agar rencana pembangunan di atas Rp 1 triliun ditinjau ulang. Jadi buat kita persoalannya bukan siapa saja akan memenangkan tender tapi lebih dari itu kita tetap menginginkan rencana pembangunan gedung baru DPR ditinjau ulang. Dorongan kami menjadi relevan karena perusahaan peserta tendernya bermasalah," tegas sekretaris FPAN DPR, Teguh Juwarno,kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (25/4/2011).
Teguh menuturkan, belum lagi PT DGI diduga telah melakukan suap dalam jumlah besar dan salah satu pimpinanannya telah tertangkap tangan KPK terkait suap proyek rumah atlet Sea Games Palembang. Bisa saja terjadi hal serupa dalam proyek pembangunan gedung baru DPR.
"Kalau dari indikasi bahwa untuk kegiatan yang lain dia bisa melakukan perilaku curang seperti itu kuat diduga dia melakukan cara seperti itu untuk memuluskan agar memenangkan tender dan ini harus menjadi perhatian serius untuk kemudian dikritisi," tuturnya.
Karenanya, PAN mendorong pengkajian ulang pembangunan gedung baru DPR secara menyeluruh. Dengan demikian pembangunan gedung baru DPR menjadi proyek yang bersih dari tikus korup.
"Jadi pernyataan ketua DPR yang akan dilakukan penghematan atau tower baru yang lebih murah menurut saya perlu didorong kesana. Kalau seolah-olah pembangunan sudah selesai," terangnya.
Berdasarkan informasi dari papan pengumuman resmi Setjen DPR, PT DGI diinformasikan lolos dalam seleksi awal tersebut. Kelima perusahaan yang lolos seleksi tahap awal tender gedung baru adalah PT KSO Adhi Karya- Wika, PT PP (Persero), PT Hutama Karya, PT Waskita Karya, dan PT Duta Graha Indah Tbk.
Sementara itu tiga perusahaan lain gagal melewati kualifikasi tahap awal. Perusahaan yang gagal adalahย PT Nindya Karya, PT Jaya Konstruksi, dan PT Tiga Mutiara.
Direktur PT DGI, MEI, terlibat kasus suap proyek Kemenpora. Ia tertangkap basah bersama R dan sekretaris Kemenpora saat transaksi di gedung Kemenpora.
(van/ndr)











































