"Kami tidak pernah meluluskan mahasiswa bernama Pepi Fernando, tapi kami pernah meluluskan mahasiswa bernama Pepi dari Jurusan Kependidikan Islam," ujar Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN, Dede Rosyada, saat ditemui di ruang kerjanya, UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, Senin (25/4/2011).
Pepi pernah menuntut ilmu di UIN Syarif Hidayatullah selama sekitar 5 tahun. Namun setelah lulus dan terjun ke masyarakat, pihak kampus agak kesulitan mengawasi. Hal ini, menurut Dede, menjadi tanggung jawab yang bersangkutan dan bukan lagi menjadi tanggung jawab kampus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, beberapa negara seperti Australia bahkan telah mengakui kurikulum UIN Syarif Hidayatullah. Dia menegaskan, di dalam kampus pun tidak ada komunitas radikal.
"Kita 1-2 hari lagi akan menjalin komunikasi dengan kepolisian, karena kami ingin tahu dari mana dia mendapatkan informasi seperti itu, karena kami jauh dari kesan radikalisme. Kami adalah perguruan tinggi Islam yang inklusif dan modernis," papar Dede.
Dede lantas menunjukkan foto Pepi dari buku wisuda tahun 2002. Dalam buku, terpampang foto pria bernama Pepi. Wajah pria itu agak kurus dan berambut lurus. Nomor induk dan nomor ijazah Pepi juga dicantumkan.
Berdasar data di buku wisuda itu, Pepi lahir di Sukabumi pada 10 Desember 1977. Dia beralamat di Jalan Semanggi 2 No 33 B, Cempaka Putih, Ciputat. Pria yang lulus pada 18 Januari 2002 itu menulis skripsi berjudul 'Kontribusi Perusahaan Kepada Serlan Serta Implikasinya Terhadap Lulusan Siap Kerja di SMK Telkom'.
Pepi disangka mengotaki teror bom buku dan bom jalur pipa gas Serpong yang berhasil diamankan pada pekan lalu. Setelah lulus kuliah, dia dikenal sebagai wartawan infotainment dan bekerja di rumah produksi. Pepi ditangkap polisi di Aceh pada Kamis 21 April 2011.
(vit/vit)











































