KBRI Watch Sesalkan Tudingan KBRI Washington Soal 4 Staf Dino yang Kabur

KBRI Watch Sesalkan Tudingan KBRI Washington Soal 4 Staf Dino yang Kabur

- detikNews
Senin, 25 Apr 2011 14:48 WIB
KBRI Watch Sesalkan Tudingan KBRI Washington Soal 4 Staf Dino yang Kabur
Jakarta - KBRI Watch, organisasi yang dibuat warga Indonesia di Amerika Serikat (AS) menolak mentah-mentah penjelasan KBRI Washington terkait 4 staf Dubes Dino Pati Djalal yang kabur. KBRI Watch menilai KBRI Washington menutup mata atas fakta yang ada.

"KBRI Watch menyesalkan tuduhan Duta Besar Dino Djalal dan pihak KBRI terhadap ke-4 staf rumah tangga Wisma Dubes dengan serta-merta menyatakan bahwa mereka sudah merencanakan kabur sejak awal kedatangan mereka di Washington DC," kata Koordinator KBRI Watch, Imron Rosyadi, dalam siaran pers, Senin (25/4/2011).

KBRI Watch menilai, semestinya KBRI Washington melakukan instrospeksi atas apa yang menjadi penyebab sesungguhnya para staf rumah tangga tersebut hingga nekat meninggalkan Wisma Dubes.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"KBRI Watch mendapat pengaduan bahwa staf ke-4 yang kabur, Fasih Atun yang bekerja sebagai baby sitter, hanya digaji Us$ 500 perbulan dengan jam kerja hampir setiap hari. Sementara KBRI Watch memperkirakan upah minimum di daerah Washington DC yang ditentukan pemerintah AS untuk pekerja seperti baby sitter dengan jam kerja 7 hari seminggu, belum termasuk overtime, bisa lebih dari US$ 1.500 perbulan," urai Imron.

KBRI Watch juga menilai, baik KBRI Washington dan Duta Besar belum paham sepenuhnya dan tampak belum siap menerima pelaksanaan UU No. 14/2008 mengenai Keterbukaan Informasi Publik. Sebagai lembaga publik dan pejabat publik, yang dibiayai dengan uang rakyat, seharusnya KBRI lebih tahu dan paham akan UU KIP yang sudah diberlakukan selama tiga tahun.

"Seyogyanya, Dubes atau pihak KBRI tidak perlu menuding atau mencap macam-macam atas keberadaan lembaga pengawas (watchdog) seperti KBRI Watch. Apapun yang dilakukan KBRI Watch mengawasi lembaga publik sepenuhnya dijamin dan dilindungi oleh UU 14/2008 tersebut," imbuhnya.

KBRI Watch juga merasa jengah dengan tudingan KBRI Washington yang menuding sejumlah aktivis KBRI Watch punya konflik kepentingan atas proyek acara budaya di KBRI, yakni dengan keinginan menjadi event organizer, apalagi sampai disebutkan sosok KBRI Watch telah mendesak Dubes Dino Djalal untuk melanggar hukum di AS.

"Tuduhan ini sama sekali tidak ada ada dasarnya, dan kami kawatir bahwa ini merupakan taktik pengalihan isu pokok yang dilontarkan KBRI Watch soal transparansi gaji staf rumah tangga Wisma Dubes yang sangat besar, karena pada kenyataaanya seluruh aktivis KBRI Watch yang berjumlah 30-an orang mempunyai penghasilan tetap, dan sama sekali tidak tergantung pada proyek apa pun dari KBRI," urainya.

KBRI Watch menilai tuduhan-tuduhan yang dilontarkan yakni anggota KBRI Watch meminta proyek sebagai upaya 'character assassination' untuk mendiskreditkan lembaga KBRI Watch yang selama ini aktif mengkritisi kinerja KBRI Washington dan Duta Besar.

"KBRI Watch mempertanyakan klaim bahwa Dubes Dino memperlakukan seluruh staf rumah tangga dengan fair dan respectful sebagai layaknya anggota keluarga sendiri dan senantiasa memperhatikan kesejahteraan dan keselamatan mereka. Karena menurut pengaduan yang masuk kepada KBRI Watch dan pernyataan Fasih Atun, dia kabur dari Wisma Dubes adalah karena ia merasa tidak dihargai dan sering dimarahi dengan kata-kata yang kasar dan menyakitkan, padahal Fasih bekerja selama 7 hari seminggu dengan upah jauh di bawah upah minimum yang diwajibkan pemerintah AS," tuturnya.

Selain itu, Fasih juga mengaku mengalami perlakuan tidak semestinya karena pernah dua kali ditinggalkan majikannya di tempat umum, terakhir ia sampai menangis karena tidak tahu bagaimana caranya bisa pulang ke Wisma Tilden, untung kemudian Fasih ditolong oleh warga Indonesia lainnya yang kebetulan berada di sana.

"Fasih Atun juga mengaku tidak sekalipun dihubungi via telepon sejak dia kabur dari Wisma Tilden. Padahal menurutnya, baik Dubes maupun isterinya mengetahui nomor ponsel-nya. Di samping itu KBRI Watch juga menyesalkan pernyataan Dubes dalam akun twitter-nya bahwa dia sangat sibuk dengan misi besar hubungan RI-AS dan tugasnya sebagai Dubes, sehingga tak sempat mengurus masalah pembantunya yang kabur," imbuhnya.

Sebelumnya, KBRI Washington DC menyanggah tudingan miring yang dialamatkan KBRI Watch terkait 4 staf rumah tangga Dubes Dino Patti Djalal yang kabur. KBRI Washington menegaskan, 4 staf itu sejak awal memang sudah mempunyai niat untuk kabur dan tinggal di AS.

"Sebagaimana dinyatakan Duta Besar Dino Patti Djalal, dari sejumlah indikasi, nampaknya hal ini sudah direncanakan sejak awal ketibaan mereka di Washington DC, dengan tujuan untuk menetap di Amerika Serikat dan mencari kerja secara permanen, suatu hal yang tidak jarang terjadi di AS," demikian siaran pers KBRI Washington yang dikirimkan melalui surat elektronik, Selasa (19/4).

(ndr/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini