Sampai saat ini pihak Rektorat UGM belum menerima laporan mengenai jumlah mahasiswa yang terekrut masuk jaringan NII. Namun kemungkinannya ada.
"Kita belum tahu secara pasti, namun saat ini kami baru berkoordinasi dengan Wakil Dekan Bidang Mahasiswa di fakultas masing-masing. Tetapi soal itu (NII) pasti ada," kata Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Sentot Haryanto di Rektorat UGM, Yogyakarta, Senin (25/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi lagi, UGM akan berkoordinasi dengan orangtua mahasiswa, terutama untuk memberikan clue, tips-tips atau informasi yang berkaitan dengan UGM. Bentuknya akan melalui sebuah buku saku," kata Sentot.
Haryanto yang juga merupakan psikolog profesional dan ustad ini mengaku sudah beberapa kali menangani kasus serupa. Dia sudah tahu trik-trik para perekrut. Seorang yang terkena aksi NII, akan meminta atau meminjam uang dari teman dan orang tua dengan berbagai alasan, misalnya kamera, ponsel atau laptop rusak.
"Kalau ke orangtua, mereka meminta uang Kuliah Kerja Lapangan (KKL) atau praktikum. Informasi-informasi yang benar ini akan kita sampaikan kepada orang tua. Jadi kalau ada anak minta uang macam-macam di luar ketentuan, orangtua bisa langsung curiga," jelas dia.
UGM juga akan berkoordinasi dengan Purek III bidang mahasiswa dari perguruan tinggi lain di Yogyakarta. UGM juga akan membentuk tim recovery untuk pemulihan mental mahasiswa yang masuk jaringan tersebut.
(bgs/fay)











































