"Sebetulnya kalau sudah dibaiat, kecenderungannya menutup diri. Kalau orang sekitar bilang orang itu berubah, ya memang berubah. Karena mungkin tadinya orangnya cerah,
lalu jadi murung. Tadinya ceria lalu jadi tertutup," ujar pengamat intelijen, Wawan Purwanto, dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (24/4/2011).
Perubahan sikap itu, lanjutnya, merupakan efek dari cuci otak yang dilakukan kelompok pemegang ideologi terorisme. "Terkadang ada yang tidak menyadari sepenuhnya tindakannya, dan melakukan sesuatu berdasar si pencuci otak," imbuh Wawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau ada hal-hal yang mencurigakan juga harus diantisipasi oleh masyarakat. RT/RW
dan keamanan setempat secara hierarkis perlu meningkatkan kewaspadaan dini. Kalau sudah lama merasa aman, orang kadang lupa mendeteksi dini. Jadi jangan terlena,"
imbaunya.
Terkait dugaan tersangka teroris yang ingin mendokumentasikan ledakan bom, hal itu, menurut Wawan sangat mungkin terjadi. Meskipun selama ini aksi ledakan bom yang
dilakukan teroris belum pernah terdokumentasikan.
"Pendokumentasian ini kan untuk menimbulkan efek kejut terhadap psikologi massa. Kalau ada dokumentasi maka ada pengabadian dari sisi sejarah. Dan kalau disebarkan
akan menimbulkan trauma yang panjang," imbuh Wawan.
Dia lantas mengingatkan pendokumentasian perampokan di Bank CIMB Niaga Medan beberapa waktu lalu. "Ada dokumentasi yang seperti ini saja jua menimbulkan dampak
psikologis, ketakutan warga," sambungnya.
Selama ini yang terjadi, tambahnya, otak terorisme merekam ucapannya sebelum beraksi
dan kemudian menyebarkannya melalui media. "Yang selama ini terjadi, mendokumentasikan dengan cara ngomong dulu di depan kamera lalu disebarkan seperti
yang dilakukan Noordin M Top," ucap Wawan.
Seorang kamerawan stasiun televisi Global TV, IF, bersama 19 tersangka kasus bom buku dan bom Serpong, Tangerang, Banten, lainnya. IF ditengarai direkrut untuk merekam teror yang direncanakan.
"Infonya, direkrut untuk merekam aksi teror yang direncanakan," kata Kabagpenum Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar saat dihubungi detikcom, Sabtu (23/4/2011).
(vit/nwk)










































