Gelar Aksi, NU Dipelesetkan Nahdlotul Oeang
Jumat, 11 Jun 2004 18:36 WIB
Yogyakarta - Tidak hanya dunia lawak atau panggung yang dibuat parodi atau dipelesetkan.Nahdlatul Ulama (NU) sebuah Islam pun dipelesetkan menjadi Nahdlotul Oeang, setelah ketua umumnya KH Hasyim Muzadi menjadi cawapres mendampingi Megawati.Pemelesetan NU itu tampak dalam aksi Komite Bersama warga NU Penyelamat Khittah 1926 di bekas situs bersejarah Kandang Menjangan Krapyak Desa Panggungharjo Sewon Bantul, Jumat (11/6/2004). Lokasi ini terletak 100 meter sebelah selatan Ponpes Al Munawwir. Dalam aksi itu, mereka membentangkan spanduk raksasa ukuran 12 x 8 meter di atas bangunan bekas tempat berburu rusa peninggalan abad 17 sebelum zaman Sultan Agung berkuasa itu.Tulisan yang terbentang di spanduk adalah "Selamatkan Khittah NU, Sekarang !!!" Adapula lambang bola dunia dengan peta Indonesia namun bentuknya bukan menggambarkan pulau-pulau Indonesia. Sedangkan tulisan Arab di depan bola dunia, bukanlah bertuliskan Nahdlatul Ulama, tapi Nahdlotul Oeang. Di bagian bawah terdapat tulisan Nahdlotul Oeang dengan huruf cukup besar. Di kanan-kiri spanduk terdapat bendera merah putih dan NU asli serta di depannya terdapat keranda jenazah bertuliskan "Matine Khittah NU."Dalam aksi itu juga digelar happening art oleh lima orang santri yang menggambarkan beberapa kiai yang saling memperebutkan NU. Empat orang yang berperan sebagai kiai memakai topeng saling memperebutkan NU. Tubuh mereka terikat oleh wadah (NU), namun di tubuhnya terikat tali yang digantungi lembaran uang kertas. Meraka saling bertengkar, tarik-menarik untukmemperebutkan organisasi NU. Mereka akhirnya terlepas dari jeratan tali uang setelah seorang kiai bermodal semangat khittah 1926 dengan berani memutuskantali-tali tersebut. Dalam orasinya yang disampaikan koordinator aksi Akhtiar, NU saat ini telah menjadi komoditas politik sehingga membuat para pengurus NU terseret di kancahpolitik praktis. Sementara ini NU sudah menyatakan tidak akan masuk ke politik praktis tapi kembali ke khittah NU 1926. "Namun kenyataan yang terjadi justru sebaliknya, NU jadi terkoyak-koyak oleh orang-orang NU sendiri yang berebut kekuasan. NU harus steril dari orang-orangyang mementingan uang atau kekuasan dan kembali ke semangat khittah 1926," kata Akhtiar.
(asy/)











































