"Puasa kembali populer di kalangan umat Protestan," ujar Prof. Dr. Herman Johan Selderhuis, Guru Besar Sejarah Gereja pada Universitas Theologia Apeldoorn di trouw.nl, Sabtu (23/4/2011).
Selama ini di Negeri Belanda puasa di kalangan Kristiani menjelang Paskah identik dengan praktik peribadatan umat Katolik. Mereka mengurangi makan minum atau menghentikan kebiasaaan kurang baik. Tujuannya untuk merenungi penderitaan Christus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskan bahwa puasa di kalangan umat Protestan sebenarnya bukan hal yang sama sekali baru.
"Para pemikir Protestan zaman dulu selalu menganjurkan untuk puasa. Contohnya Calvin. Pada penampilannya yang lemah sudah bisa dilihat bahwa dia kadang makan kadang tidak," terang Selderhuis.
Hanya saja sejak seratus tahun terakhir puasa kurang dipehatikan. Penyebabnya, menurut Selderhuis, karena ada pengkotak-kotakan umat.
"Pada awal abad lalu umat Katolik dan Protestan saling memisahkan diri. Kini mulai ada semakin banyak pendekatan. Kami bersedia untuk saling belajar," ujar Selderhuis, yang juga menjabat presiden International Calvin Congress.
"Dan di luar agama Kristen, umat Protestan juga dapat menambah inspirasi untuk berpuasa. Kita sekarang ini juga menyaksikan bagaimana umat muslim melaksanakan puasa Ramadan," pungkas Selderhuis.
(es/es)











































