Biasanya, Handini akan mudah ditemui jika ada massa yang berdemo atau di kantornya, Mapolsek Gambir. Wanita yang pertama kali berkarir di kepolisian sejak tahun 1981 ini bercerita kepada detikcom, Rabu (20/4/2011), tentang kebanggaannya menjadi polisi wanita (Polwan) hingga situasi saat berhadapan langsung dengan anaknya di lapangan saat mahasiswa berdemo kepada para 'Kartini muda'.
"Semua pengalaman bagi saya adalah hal yang menarik," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal itu saya sangat rasakan, apalagi saya seorang Polwan. Setiap hari selalu berhadapan dengan orang-orang tidak puas," kata Handini
"Yang dulu saya tidak tahu apa itu kritik sekarang saya tahu kritik. Dengan cara mereka yang kadangkala anarki dan penyampaian yang beda-beda dan saya mengenal betul karakter berbagai orang," tambahnya.
Sebagai seorang perempuan yang bertugas menjaga keamanan di tengah masyarakat, Handini menyadari adanya perbedaan antara Polwan dengan polisi pada umumnya. Perbedaan tersebut terlihat dari perlakuan dan komunikasi yang diberikan kepada masyarakat.
"Kita perempuan punya rasa kelembutan dan kepandaian kita menyampaikan pesan ke masyarakat. Saya benar-benar merasakan seperti ini loh masyarakat kita," jelasnya.
Meski biasa menangani demo, namun jika berhadapan dengan demonstran buruh atau mahasiswa, adrenalin dalam dirinya berpacu kencang. kehati-hatian dan penanganan yang sesuai prosedur adalah kunci keberhasilan dalam menangani demonstrasi buruh dan mahasiswa.
"Saya bangga sampai saat ini menjadi polwan sangat bangga karena saya mewakili Polwan di kepolisian," terangnya.
Ada kisah yang menarik selama Handini bertugas. ia pernah berhadapan langsung dengan anaknya sendiri yang tengah berdemo di depan Istana Negara. Anaknya mewakili pihak mahasiswa dari Universitas Trisakti, sekaligus menjadi kordinator lapangan aksi tersebut. Meski begitu, sebagi seorang ibu ada rasa ketakutan saat melihat anaknya berdemonstrasi dan berdiri di atas mobil.
"Tapi saya punya kebanggaan anak saya bisa berbicara di depan saya dan orang banyak. Namun setiap hendak berdemo saya selalu dapat bocoran berapa jumlah massa yang hadir. Saya juga berpesan, silakan kamu sama teman kamu berunjuk rasa, asal jangan kamu menghina polisi karena ibumu polisi," jelasnya.
Ibu dua anak ini juga berpesan kepada Polwan muda, agar bisa menjaga diri dan tidak melupakan bahwa Polwan adalah seorang perempuan yang harus menjaga dirinya dan juga seorang ibu dari anak-anaknya di rumah.
"Jangan cengengesan. Jadi nilai Polwan itu masih bagus," katanya.
Sebagai ibu, Handini menempatkan dirinya di rumah ibu yang mengurusi anaknya. Menciptakan kondisi kondusif dan menjaga komunikasi harus terus terjalin sama anak-anak.
Dalam perayaan Hari Kartini, Handini berpesan kepada seluruh wanita di Indonesia untuk bisa menjaga citra seorang perempuan. "Pada Kartini muda, siapa pun anda tetap menjaga citranya sebagai wanita. Jaga betul nilai dan etika seorang perempuan," tegasnya.
Selamat hari Kartini, perempuan Indonesia !
(fiq/mok)











































