Acara yang dilangsungkan di makam Almarhum Gus Dur selama sekitar satu jam ini diisi dengan pembacaan tahlil dan renungan yang diikuti beberapa santri untuk mengenang Franky.
Meski tanpa melantunkan lagu-lagu Franky, namun acara yang digelar sangat sederhana ini berlangsung khidmat. Beberapa santri mengaku sempat mencucurkan air matanya saat mengingat sosok Franky berziarah ke Makam Gus Dur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Aminuddin (26), salah satu santri asal Banyumas Jawa Tengah ini mengaku, meski Franky bukan seorang muslim, namun baginya, sosok Franky patut ditiru dalam menyikapi kinerja pemerintah melalui syair-syair lagunya.
Amin, begitu sapaannya, menceritakan kenangannya saat bertemu dengan Franky saat peringatan 40 wafatnya Gus Dur di Komplek Ponpes Tebuireng. "Saat itu Franky terlihat air matanya berlinang saat berdoa di depan makam beliau (Gus Dur, red)," kata Amin kepada detiksurabaya.com, Rabu (20/4/2011) malam.
Hal senada juga dikatakan Abdul Hadi (28), santri asal Tangerang Banten ini merasa sangat kehilangan sosok musisi sekaligus aktifis pluralisme ini. "Setelah Gus Dur tiada, Franky juga tiada. Saya berharap akan ada musisi-musisi seperti dia," tambahnya.
Dulu waktu saat peringatan 40 hari wafatnya Gus Dur, lanjut Hadi, Franky dan seniman lainnya, seperti Sudjiwo Tedjo, Cak Nun dan Wagub Jatim, Gus Ipul berziarah ke makam Gus Dur. "Saat itu Franky sempat mengatakan bahwa, Gus Dur wafat, bangsa ini kehilangan obor," pungkas Hadi.
(bdh/fiq)










































